top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Wapres Gibran Tinjau Nyaru Menteng, Pastikan Orangutan Terdampak Karhutla Ditangani

1 hour ago
2 min read
Wapres Gibran Rakabuming saat meninjau Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Palangka Raya. (Foto: Istimewa)
Wapres Gibran Rakabuming saat meninjau Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Palangka Raya. (Foto: Istimewa)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng yang dikelola Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Kota Palangka Raya, Kamis (10/9/2026).


Didampingi Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung penanganan orangutan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus memastikan kebutuhan perawatan satwa dan pemulihan habitatnya mendapat perhatian.


Kunjungan berlangsung di tengah kondisi kabut asap yang sempat menyulitkan pendaratan pesawat. Gibran tetap melanjutkan agenda dengan membawa dokter hewan dan pegiat konservasi satwa dari Jakarta untuk melihat kondisi orangutan serta kebutuhan penanganannya.


“Penanganan karhutla harus menyeluruh. Manusia harus terlindungi, tetapi satwa dan habitatnya juga tidak boleh kita abaikan. Saya ingin memastikan kebutuhan perawatan di sini benar-benar terpenuhi,” ujar Gibran.


Di Nyaru Menteng, Wapres meninjau Forest School BOSF yang menjadi lokasi pembinaan 17 orangutan. Ia juga melihat area Karantina Individu Orangutan dan proses nebulisasi atau pemberian uap untuk membantu menangani satwa yang mengalami gangguan akibat paparan asap.


Sekitar 90 orangutan saat ini menjalani perawatan di sejumlah kandang yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satwa. Gibran turut berdialog dengan dokter hewan, relawan dan tim konservasi untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan perawatan secara langsung.


Dalam kunjungan tersebut, Wapres juga menyerahkan bantuan berupa obat-obatan, bawang bombay dan alat nebulizer untuk mendukung proses perawatan orangutan.


Menurut Gibran, penanganan satwa terdampak karhutla tidak cukup hanya dengan melakukan penyembuhan. Pemulihan habitat juga menjadi bagian penting agar satwa dapat kembali memperoleh lingkungan yang mendukung keberlangsungan hidupnya.


“Perlindungan satwa dan pemulihan lingkungan adalah hal penting yang saling terkait. Termasuk penyembuhan hewan yang terluka serta penyediaan kembali sumber pakan, air dan ekosistem bagi satwa,” tegasnya.


Dalam kesempatan yang sama, Gibran berdiskusi dengan para pegiat konservasi dan pihak yang selama ini terlibat dalam penyelamatan satwa. Mereka menyampaikan kondisi di lapangan, termasuk kebutuhan penanganan satwa terdampak dan pemulihan habitat yang rusak akibat karhutla.


Para pegiat satwa juga menyampaikan masukan mengenai pentingnya penguatan regulasi kesejahteraan hewan, termasuk melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesejahteraan Hewan.


“Pemerintah sangat membutuhkan kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak termasuk komunitas, relawan, masyarakat, dan yayasan,” tegas Gibran.


Ia juga mengingatkan adanya potensi satwa memasuki kawasan permukiman akibat terganggunya habitat. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui edukasi kepada masyarakat agar satwa yang mengungsi tidak diburu maupun disakiti.


“Kita juga perlu mengantisipasi potensi satwa masuk ke pemukiman karena habitatnya terganggu akibat karhutla. Mohon bantuan untuk meningkatkan edukasi masyarakat, utamanya agar tidak memburu atau menyakiti satwa yang mengungsi ke area pemukiman,” pintanya.


Gibran turut memberikan apresiasi kepada dokter hewan, relawan, pecinta satwa, yayasan dan seluruh pihak yang selama ini konsisten melakukan penyelamatan serta perawatan satwa di Kalimantan Tengah.


“Terima kasih kepada para dokter hewan, pecinta hewan, relawan, yayasan dan seluruh tim yang terus melakukan perawatan untuk melindungi satwa Indonesia. Aksi nyata Bapak Ibu semua sangat berarti,” ungkapnya.


Kunjungan tersebut menegaskan bahwa penanganan karhutla di Kalteng tidak hanya diarahkan untuk melindungi masyarakat, tetapi juga menyelamatkan satwa liar dan mendukung pemulihan ekosistem yang terdampak kebakaran.


Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, relawan, masyarakat dan yayasan, penanganan satwa terdampak diharapkan dapat berjalan terpadu, sekaligus mempercepat pemulihan habitat dan menjaga keberlangsungan ekosistem pascakarhutla. -red


Penulis: Angel

Editor: Ivonne Hana

Comments


bottom of page