top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Tradisi Bubur Asyura di Sampit Tetap Lestari, Warga Jalan Juanda Masak 110 Kg Beras Sambut 10 Muharam

Warga Jalan Juanda, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, bergotong royong memasak Bubur Asyura untuk dibagikan kepada masyarakat dalam rangka memperingati 10 Muharam 1448 Hijriah, Kamis (25/6/2026). (Foto. Dok. Nafiri)
Warga Jalan Juanda, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, bergotong royong memasak Bubur Asyura untuk dibagikan kepada masyarakat dalam rangka memperingati 10 Muharam 1448 Hijriah, Kamis (25/6/2026). (Foto. Dok. Nafiri)

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Tradisi memasak dan membagikan Bubur Asyura masih terus dilestarikan warga Jalan Juanda, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sebagai bagian dari peringatan 10 Muharam 1448 Hijriah, Kamis (25/6/2026).


Tradisi yang telah berlangsung lebih dari dua dekade itu kembali menyatukan masyarakat dalam semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Ratusan warga terlibat mulai dari menyiapkan bahan, memasak, hingga membagikan bubur kepada masyarakat secara gratis.


Salah satu tokoh masyarakat yang terlibat sejak awal tradisi ini, Idar (58), mengatakan pembuatan Bubur Asyura telah menjadi agenda rutin setiap bulan Muharam dan selalu mendapat dukungan masyarakat.


"Setiap tahun kami membuat bubur ini, biasanya tepat 10 Muharam. Tahun ini kami memasak menggunakan 110 kilogram beras, 10 kilogram daging, dan 20 kilogram ayam kampung. Alhamdulillah, banyak warga yang menyukainya," ujarnya.


Bubur Asyura khas Sampit memiliki cita rasa gurih dengan perpaduan berbagai rempah seperti kapulaga, merica, bawang merah, bawang putih, santan, margarin, serta kaldu ayam maupun sapi. Sajian tersebut juga diperkaya dengan aneka sayuran, potongan daging sapi, dan ayam sehingga menghasilkan rasa yang khas.


Proses memasaknya memerlukan waktu sekitar dua jam menggunakan tungku berukuran besar. Seluruh bahan dimasukkan secara bertahap sambil terus diaduk agar menghasilkan tekstur bubur yang lembut dan merata.


"Memasaknya harus telaten. Semuanya kami lakukan bersama, mulai dari mengolah bahan hingga pembagian," jelas Idar.


Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pembagian Bubur Asyura kali ini dilakukan dalam dua tahap. Pada pagi hari, bubur dibagikan kepada anak-anak panti asuhan dan santri pondok pesantren. Sementara siang harinya, masyarakat umum mulai berdatangan membawa wadah masing-masing untuk memperoleh bubur secara gratis.


Antusiasme warga terlihat tinggi. Ratusan porsi bubur habis dalam waktu singkat meski pembagian berlangsung tertib dan penuh suasana kekeluargaan.


Idar mengungkapkan keberlangsungan tradisi tersebut tidak lepas dari dukungan para dermawan yang setiap tahun menyumbangkan dana maupun bahan makanan.


"Kami bersyukur, tahun ini banyak dermawan yang ikut membantu, baik dalam bentuk dana, bahan, maupun perlengkapan masak. Inilah kekuatan kebersamaan," ungkapnya.


Bagi masyarakat Jalan Juanda, Bubur Asyura bukan sekadar hidangan khas Muharam. Tradisi ini telah menjadi simbol kebersamaan, kepedulian sosial, sekaligus warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi.


"Melihat orang lain bahagia menikmati bubur ini, rasanya puas sekali. Inilah yang ingin terus kami jaga setiap tahun," pungkas Idar. -red


Penulis: Angel

Editor: Nafiri

Comments


bottom of page