Tidak Tahan Tonton Video Lama, Mungkinkah Attention Span Kita Menurun?
- kaltengnetwork.com
- Jun 3
- 4 min read

KALTENGNETWORK- Manusia modern memiliki rentang perhatian lebih pendek daripada ikan mas, benarkah klaim populer ini?
Pernyataan seperti ini semakin sering terdengar sejak kemunculan TikTok, Reels, Shorts, dan berbagai platform yang menyajikan konten serba cepat.
Banyak orang percaya bahwa generasi saat ini sudah kehilangan kemampuan untuk fokus dalam waktu lama.
Namun, benarkah attention span manusia sedang menurun? Ataukah kita sebenarnya hanya mengubah cara mengonsumsi informasi?
Apa Itu Attention Span?
Attention span adalah kemampuan seseorang untuk mempertahankan perhatian pada suatu aktivitas atau informasi dalam jangka waktu tertentu.
Sederhananya, ini adalah kemampuan otak untuk tetap fokus tanpa terdistraksi.
Kemampuan ini penting dalam berbagai aktivitas seperti belajar, bekerja, membaca, mengemudi, dan berkomunikasi.
Karena itulah muncul kekhawatiran ketika banyak orang merasa semakin sulit menyelesaikan satu tugas tanpa tergoda membuka notifikasi atau media sosial.
Apakah Attention Span Benar-Benar Menurun?
Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak".
Salah satu klaim yang paling sering beredar adalah bahwa manusia kini hanya memiliki attention span selama 8 detik, bahkan lebih pendek daripada ikan mas.
Masalahnya, klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Para peneliti justru menilai bahwa perhatian manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar angka tertentu.
Faktanya, banyak orang masih mampu:
Menonton pertandingan sepak bola selama 90 menit.
Menonton serial selama berjam-jam.
Bermain game berjam-jam.
Mengikuti konser selama satu malam penuh.
Jika attention span benar-benar hanya beberapa detik, hal-hal tersebut seharusnya tidak mungkin dilakukan.
Apa Kata Penelitian?
Selama bertahun-tahun, banyak orang percaya bahwa attention span manusia kini hanya sekitar 8 detik—bahkan lebih pendek daripada ikan mas. Klaim ini berasal dari laporan pemasaran Microsoft Canada pada 2015 dan sering diulang di internet. Namun hingga kini, angka tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat dan tidak pernah benar-benar dikonfirmasi oleh penelitian psikologi modern.
Penelitian yang lebih baru justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Sebuah meta-analisis yang menggabungkan data lebih dari 21.000 orang dari 32 negara menemukan bahwa kemampuan dasar manusia untuk mempertahankan perhatian tidak menunjukkan penurunan yang signifikan selama beberapa dekade terakhir. Pada orang dewasa bahkan ditemukan sedikit peningkatan pada beberapa pengukuran perhatian.
Dengan kata lain, tidak ada bukti kuat bahwa otak manusia modern secara biologis menjadi lebih tidak mampu fokus dibanding generasi sebelumnya.
Jadi, Apa yang Berubah?
Yang berubah mungkin bukan kemampuan fokus manusia, melainkan lingkungan tempat perhatian itu bersaing.
Dulu, saat membaca koran atau menonton televisi, gangguan relatif terbatas.
Hari ini, dalam satu perangkat kecil di tangan kita terdapat berbagai notifikasi aplikasi.
Setiap aplikasi berlomba-lomba mendapatkan perhatian kita.
Dalam ekonomi digital modern, perhatian manusia bahkan sering disebut sebagai komoditas yang sangat berharga.
Kita Masih Bisa Fokus Lama, Tapi Semakin Jarang Melakukannya
Meski kemampuan dasar untuk fokus tampaknya tidak banyak berubah, penelitian menunjukkan bahwa perilaku kita memang berubah.
Psikolog Gloria Mark dari University of California, Irvine, telah meneliti kebiasaan penggunaan komputer selama lebih dari dua dekade. Ia menemukan bahwa rata-rata waktu seseorang bertahan pada satu layar atau tugas sebelum beralih ke hal lain terus menurun: dari sekitar 2,5 menit pada awal 2000-an menjadi sekitar 47 detik pada awal 2020-an.
Artinya, bukan perhatian manusia yang "rusak", melainkan kita semakin sering berpindah fokus.
Masalahnya, setiap kali otak berpindah tugas, ada biaya kognitif yang harus dibayar. Penelitian menunjukkan bahwa terlalu sering berpindah perhatian dapat meningkatkan kesalahan, memperlambat penyelesaian pekerjaan, dan meningkatkan tingkat stres.
Manusia modern tidak kehilangan kemampuan untuk fokus. Kita hanya hidup di lingkungan yang secara aktif dirancang untuk membuat kita tidak fokus.
Di era digital, perhatian telah menjadi komoditas yang diperebutkan oleh berbagai platform.
Peneliti media sosial bahkan menyebut bahwa ekonomi digital modern dibangun di atas perebutan perhatian pengguna. Semakin lama seseorang bertahan melihat konten, semakin besar peluang platform memperoleh keuntungan dari iklan atau interaksi.
Karena itu, banyak aplikasi dirancang untuk terus menawarkan hal baru secara cepat dan berkelanjutan. Setiap swipe atau scroll menghadirkan kemungkinan menemukan sesuatu yang lucu, mengejutkan, atau menarik, sehingga mendorong pengguna untuk terus bertahan di platform.
Fokus Tidak Hilang, Tapi Menjadi Selektif
Beberapa ahli berpendapat bahwa manusia modern tidak kehilangan kemampuan fokus.
Sebaliknya, kita menjadi lebih selektif dalam menentukan apa yang layak mendapatkan perhatian.
Banyak orang mengaku tidak mampu membaca artikel sepanjang 1.000 kata.
Namun mereka bisa menghabiskan tiga jam menonton drama Korea atau mengikuti perdebatan panjang di media sosial.
Ini menunjukkan bahwa perhatian tidak hilang. Ia hanya diberikan kepada hal yang dianggap menarik, relevan, atau memberikan imbalan emosional.
Tantangan yang Sebenarnya
Meski belum ada bukti kuat bahwa kemampuan dasar manusia untuk fokus mengalami penurunan drastis, para peneliti tetap melihat adanya perubahan dalam cara kita menggunakan perhatian sehari-hari.
Lingkungan digital modern membuat kita jauh lebih sering berpindah dari satu informasi ke informasi lain. Notifikasi, pesan instan, media sosial, email, dan berbagai aplikasi terus bersaing mendapatkan perhatian kita. Akibatnya, kita lebih sering melakukan task switching atau perpindahan fokus.
Masalahnya, setiap perpindahan perhatian memiliki biaya mental. Penelitian Gloria Mark menunjukkan bahwa setelah perhatian teralihkan, seseorang membutuhkan waktu untuk kembali mencapai tingkat konsentrasi yang sama seperti sebelumnya. Perpindahan yang terlalu sering dapat meningkatkan rasa lelah mental, tekanan waktu, dan stres.
Dengan kata lain, tantangannya bukan karena manusia tidak lagi mampu fokus dalam waktu lama. Tantangannya adalah kita semakin jarang berada dalam kondisi yang memungkinkan fokus mendalam terjadi.
Jadi ketika merasa sulit berkonsentrasi, mungkin penyebabnya bukan karena attention span kita rusak. Bisa jadi karena ada puluhan aplikasi, notifikasi, dan algoritma yang sedang berlomba-lomba mendapatkan perhatian yang sama.-red
Penulis : Ivonne Hana
Editor: Emuna Asie
















Comments