top of page
KN.png

Berita Terpopuler

Strawberry Moon Hiasi Langit Indonesia Malam Ini

Ilustrasi fenomena Strawberry Moon. (Foto: AI Generated)
Ilustrasi fenomena Strawberry Moon. (Foto: AI Generated)

KALTENG NETWORK – Fenomena Strawberry Moon atau bulan purnama Juni diperkirakan kembali menghiasi langit Indonesia pada Selasa (30/6/2026). Meski namanya identik dengan buah stroberi, fenomena ini bukan berarti bulan akan tampak berwarna merah muda.


Secara astronomi, fenomena tersebut merupakan fase bulan purnama biasa. Berdasarkan data astronomi internasional, puncak bulan purnama terjadi pada Selasa, 30 Juni 2026, pukul 06.56 WIB atau saat bulan sudah berada di bawah horizon di Indonesia. Karena itu, waktu terbaik menikmati keindahannya adalah sejak malam sebelumnya hingga dini hari.


Nama Strawberry Moon berasal dari tradisi suku-suku asli Amerika Utara yang menjadikan bulan purnama Juni sebagai penanda musim panen stroberi liar. Nama tersebut tidak berkaitan dengan warna bulan yang berubah menjadi merah muda.


Di berbagai negara, bulan purnama Juni juga memiliki sebutan lain seperti Honey Moon, Mead Moon, hingga Rose Moon, yang disesuaikan dengan tradisi dan musim di masing-masing wilayah.


Micromoon Terakhir Tahun Ini


Strawberry Moon tahun ini memiliki keistimewaan karena berstatus micromoon, yaitu ketika bulan berada di titik terjauh dari Bumi atau apogee.


Kondisi tersebut membuat ukuran bulan tampak sekitar tujuh persen lebih kecil dan sedikit lebih redup dibandingkan bulan purnama pada umumnya. Meski perbedaannya sulit dikenali dengan mata telanjang, fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengamat langit.


Bagi masyarakat di belahan bumi selatan, termasuk Indonesia, posisi bulan juga diperkirakan akan tampak lebih tinggi di langit dibandingkan pengamat di belahan bumi utara.


BMKG Imbau Warga Pesisir Tetap Waspada


Selain menjadi fenomena yang menarik untuk diamati, BMKG mengingatkan fase bulan purnama juga dapat memengaruhi kondisi pasang air laut.


BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir maupun yang beraktivitas di laut agar terus memantau informasi cuaca dan kondisi gelombang sebelum melakukan aktivitas.


Sementara bagi masyarakat yang ingin menikmati Strawberry Moon, pengamatan dapat dilakukan tanpa alat bantu khusus selama kondisi langit cerah dan tidak tertutup awan.


Fenomena ini menjadi salah satu contoh bagaimana peristiwa astronomi dapat dipadukan dengan sejarah dan budaya masyarakat dunia. Selain menarik untuk disaksikan, Strawberry Moon juga menjadi momen yang tepat untuk mengenal lebih dekat ilmu astronomi dan siklus alami bulan yang telah dimanfaatkan manusia sebagai penanda musim selama berabad-abad. -red


Penulis: Angel

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page