Mungkinkah Generasi Z Menembus Batas Kelas Sosial?
- Fransisca Fethy Angelina
- May 7
- 4 min read
Updated: 7 days ago
Penulis: Muhammad Rani/Mind your Money

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama puluhan tahun, orang tua selalu menanamkan satu narasi kepada anak-anaknya bahwa dengan bekerja keras, raih pendidikan tinggi, maka kelas sosialmu akan ikut naik. Narasi itu berhasil untuk generasi Baby Boomer dan sebagian Generasi X. Namun bagi Generasi Z, mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 dan kini mulai memasuki dunia kerja secara penuh, narasi tersebut mulai terbentur.
Biaya kuliah melonjak 177 persen dibanding era Baby Boomer setelah disesuaikan inflasi.[1] Harga rumah di kota-kota besar telah melampaui kemampuan beli rata-rata pekerja muda. Dan yang paling mengejutkan, 51 persen lulusan Gen Z menyebut gelar sarjana mereka sebagai keputusan finansial yang tidak sepadan.
[2] Kondisi sekarang tidak lagi soal seberapa keras Generasi Z mau bekerja dan berusaha, melainkan apakah sistem yang mereka warisi masih memungkinkan terjadinya kenaikan kelas sosial.
Social mobility, atau kemampuan seseorang untuk berpindah dari satu kelas sosial ke kelas yang lebih tinggi terlepas dari latar belakang keluarganya, adalah indikator paling jujur dari seberapa adil sebuah masyarakat bekerja.
Ketika mobilitas ini macet, posisi seseorang dalam hierarki ekonomi ditentukan bukan oleh usaha dan kemampuannya, melainkan oleh kondisi tempat lahirnya dan seberapa mumpuni keuangan orang tuanya. Inilah yang kini terjadi secara struktural pada Generasi Z di banyak negara, termasuk Indonesia.
Generasi Z mewarisi tiga pukulan struktural yang datang berurutan. Pertama, Krisis Keuangan Global 2008 melukai keuangan keluarga mereka ketika mereka masih anak-anak, memotong tabungan dan aset orang tua yang seharusnya menjadi modal awal mobilitas.
Kedua, Pandemi COVID-19 membatalkan atau menunda permulaan karir mereka tepat di masa paling krusial, yaitu dua hingga tiga tahun pertama di dunia kerja yang menentukan trajektori penghasilan jangka panjang.
Ketiga, mereka menanggung utang pendidikan dengan rata-rata beban 22.948 dolar AS per peminjam dan laju pertumbuhan utang tercepat di antara semua generasi, yakni 6,72 persen per tahun secara gabungan. [3] Utang ini menjadi jangkar yang menunda kemampuan mereka untuk menabung, berinvestasi, atau membeli aset sejak hari pertama bekerja.
Pendidikan tinggi yang selama beberapa dekade dipromosikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan kini menghadapi krisis kepercayaan yang serius di Indonesia. Meski data BPS 2025 mencatat terdapat pertumbuhan sebesar 11 persen pada penduduk Indonesia yang menamatkan pendidikan tinggi, gelar sarjana ternyata tidak lagi menjamin akses ke pasar kerja formal.
[4] Lapangan kerja formal yang tercipta di Indonesia terus menyusut secara dramatis, dari 15,6 juta pekerjaan baru pada periode 2009 hingga 2014, anjlok menjadi hanya 2 juta pada periode 2019 hingga 2024, sementara jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah setiap tahun.
[5] Akibatnya, per Februari 2024 Gen Z menyumbang lebih dari 50 persen dari total pengangguran terbuka nasional, dan jika ditambahkan mereka yang masuk kategori NEET, yaitu tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan apapun, angkanya melonjak menjadi hampir 9,9 juta jiwa muda yang produktivitasnya terbuang sia-sia.
[6] Ini tidak menunjukkan bahwa generasi z menyerah, namun struktur ekonomi Indonesia yang belum mampu menyerap output dari sistem pendidikannya sendiri, dan Gen Z adalah generasi yang paling langsung menanggung akibatnya.
Di sisi lain, era digital membuka jalur mobilitas yang sebelumnya tidak pernah tersedia. Sebanyak 52 persen profesional Gen Z sudah aktif dalam ekonomi gig sebagai bagian dari strategi penghasilan mereka, [7] memanfaatkan internet untuk mengakses klien global, membangun audiens, dan memonetisasi keahlian tanpa harus melewati jalur institusi formal yang mahal.
Seseorang yang lahir di keluarga buruh di daerah terpencil kini secara teknis bisa belajar pemrograman secara gratis dan menjual jasanya ke perusahaan di luar negeri. Namun akses internet berkualitas, perangkat yang memadai, dan literasi digital masih terkonsentrasi di kelompok yang sudah memiliki keunggulan ekonomi.
Teknologi membuka pintu mobilitas, tetapi di saat yang sama memperlebar jurang antara mereka yang bisa memanfaatkannya dan mereka yang tidak. Ini adalah paradoks terbesar Generasi Z, alat untuk naik kelas sosial sudah ada, tetapi distribusi aksesnya masih sangat tidak merata. Selain itu, kesenjangan ini juga tidak bisa diselesaikan oleh individu semata.
Data OECD menunjukkan bahwa di Denmark hanya dibutuhkan dua generasi bagi seseorang dari keluarga berpenghasilan rendah untuk mencapai rata-rata pendapatan nasional, sementara di banyak negara berkembang angka itu mencapai tujuh hingga sebelas generasi.
[7] Denmark mencapai posisi itu melalui kebijakan redistribusi yang kuat, investasi publik masif dalam pendidikan, dan jaring pengaman sosial yang konsisten selama puluhan tahun [8] bukan melalui semangat kerja keras individual semata.
Social mobility bagi Generasi Z masih mungkin, tetapi hanya jika dua hal terjadi secara bersamaan. Pada level individu, strategi harus lebih presisi dari sekadar kerja keras dan fokus terhadap pemilihan keahlian teknis yang tahan terhadap otomasi dan bernilai pasar global, membangun modal sosial secara aktif melampaui batas geografis, dan memulai investasi aset sedini mungkin bahkan dengan penghasilan yang belum besar.
Pada level struktural, tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya diletakkan di pundak individu. Reformasi dalam kebijakan pendidikan, akses perumahan, dan redistribusi ekonomi adalah prasyarat yang tidak bisa diabaikan.
Generasi Z kini telah melampaui Baby Boomer dalam porsi angkatan kerja Amerika Serikat dan diproyeksikan menyentuh 30 persen dari total angkatan kerja global pada 2030.
[9] Dengan kecakapan digital yang memungkinkan mereka mengorganisir diri lebih cepat dari generasi mana pun sebelumnya, mereka memiliki kekuatan kolektif yang nyata untuk mendorong perubahan kebijakan tersebut.
Tangga sosial memang terasa lebih berat untuk dipijak hari ini. Tetapi selama ada generasi yang cukup sadar untuk mempertanyakan mengapa tangga itu berat dan cukup terorganisir untuk menuntut pembangunannya kembali, tangga itu belum sepenuhnya runtuh.
Referensi
[1] ConsumerAffairs (2025). Comparing the Costs of Generations.
[2] Indeed / Newsweek (2025). Most Gen Z Graduates Now Think College Was Waste of Money.
[3] EducationData.org (2024). Student Loan Debt by Generation.
[4] GoodStats / BPS (2025). Lulusan Perguruan Tinggi RI Terus Bertambah, Tembus 11% pada
[5] Tim Jurnalisme Data Kompas / Sakernas BPS (2024). Nyaris 10 Juta Gen Z Pengangguran,
Ternyata Ini Akar Masalahnya. money.kompas.com/read/2024/05/24
[6] Sakernas via CNBC Indonesia (2024). Gen Z Nganggur, Pemerintah Siap Beri Atensi. Data
Februari 2024. cnbcindonesia.com/research/20240812
[7] Statista / OECD (2023). A Broken Social Elevator?
[8] World Economic Forum (2020). Global Social Mobility Report 2020.
[9] U.S. Department of Labor, ETA (2024). Trendlines August 2024.















Comments