top of page

Mengapa Anak Muda Kalteng Semakin Bangga Menggunakan Identitas Daerah di Era Global?

Ilustrasi Anak Muda Kalteng. (Foto: Ilustrasi AI)
Ilustrasi Anak Muda Kalteng. (Foto: Ilustrasi AI)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Di tengah derasnya arus globalisasi, tren budaya Korea Selatan, gaya hidup Barat, hingga konten digital yang datang dari berbagai belahan dunia, muncul fenomena menarik di Kalimantan Tengah. Semakin banyak anak muda yang justru mulai menunjukkan kebanggaan terhadap identitas daerahnya sendiri. Mulai dari penggunaan motif Dayak dalam fesyen, konten media sosial berbahasa daerah, promosi wisata lokal, hingga munculnya berbagai produk kreatif yang mengangkat identitas Kalimantan Tengah sebagai nilai utama.


Fenomena ini mungkin terlihat bertolak belakang dengan anggapan lama bahwa globalisasi akan mengikis budaya lokal. Namun berbagai penelitian menunjukkan hal yang berbeda. Di era digital, generasi muda justru cenderung menggabungkan identitas global dan lokal secara bersamaan. Mereka tetap mengikuti tren dunia, tetapi pada saat yang sama ingin menunjukkan asal-usul dan keunikan daerahnya. Penelitian tentang representasi budaya lokal di kalangan Generasi Z menemukan bahwa media sosial telah menjadi ruang baru untuk menampilkan identitas budaya dan membangun kebanggaan terhadap daerah asal. Budaya lokal tidak lagi dianggap kuno, melainkan dapat tampil modern dan relevan melalui platform digital.


Di Kalimantan Tengah, gejala tersebut semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai acara budaya yang melibatkan generasi muda terus bermunculan. Anak-anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi kreator yang mengemas budaya Dayak dalam bentuk yang lebih dekat dengan generasi digital, seperti video pendek, fotografi, desain grafis, hingga konten edukasi di media sosial.


Menurut pengamat budaya Kalimantan Tengah, Dr. Kumpiady Widen, kebanggaan terhadap identitas daerah saat ini tidak lagi diwujudkan dalam bentuk yang sama seperti generasi sebelumnya. Jika dahulu pelestarian budaya banyak dilakukan melalui kegiatan adat formal, kini generasi muda lebih sering melakukannya melalui media digital dan karya kreatif yang dapat menjangkau audiens lebih luas.


Perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa mayoritas pengguna internet Indonesia berasal dari kelompok Generasi Z dan milenial. Pada 2024, sekitar 72,78 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas mengakses internet, dengan kelompok anak muda menjadi pengguna paling dominan.


Kondisi ini menciptakan ruang yang memungkinkan budaya lokal tampil lebih luas daripada sebelumnya. Jika dahulu promosi budaya bergantung pada acara fisik atau media konvensional, kini satu video tentang tarian tradisional, kuliner khas, atau kehidupan masyarakat pedalaman dapat ditonton ribuan hingga jutaan orang hanya melalui ponsel.


Menariknya, penelitian tentang Generasi Z dan budaya lokal menunjukkan bahwa anak muda tidak melihat identitas daerah sebagai sesuatu yang bertentangan dengan modernitas. Sebaliknya, mereka menganggap budaya lokal sebagai bagian dari identitas yang membuat mereka berbeda di tengah dunia yang semakin seragam. Identitas lokal justru menjadi nilai tambah yang membedakan mereka dari kreator atau komunitas lain.


Fenomena ini juga terlihat pada perkembangan berbagai merek lokal di Kalimantan Tengah. Sejumlah pelaku usaha muda mulai menggunakan unsur budaya Dayak, nama lokal, maupun cerita daerah sebagai bagian dari identitas produk mereka. Strategi tersebut tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat kebanggaan terhadap daerah asal.


“Anak muda sekarang tidak malu lagi menunjukkan identitas daerahnya. Bahkan itu menjadi nilai yang unik dan menarik,” ujar Rudi Hartono, pelaku industri kreatif di Palangka Raya.

Di tingkat global, UNESCO juga menilai bahwa generasi muda memiliki peran penting sebagai penjaga sekaligus pengembang budaya.


Organisasi tersebut menegaskan bahwa partisipasi anak muda dalam kehidupan budaya membantu memperkuat identitas, memperluas wawasan, dan menjaga keberagaman di tengah dunia yang semakin terkoneksi.


Meski demikian, tantangan tetap ada. Globalisasi masih membawa budaya populer yang sangat kuat dan mudah diakses. Jika tidak diimbangi dengan upaya pelestarian yang kreatif, budaya lokal dapat kehilangan daya tarik di mata generasi muda.


Karena itu, para peneliti menilai bahwa pendekatan pelestarian budaya perlu beradaptasi dengan kebiasaan generasi digital, termasuk melalui media sosial, konten kreatif, dan berbagai platform yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.


Di Kalimantan Tengah, fenomena kebanggaan terhadap identitas daerah menunjukkan bahwa globalisasi tidak selalu membuat budaya lokal melemah. Justru sebaliknya, akses teknologi dan media digital memberi kesempatan bagi generasi muda untuk memperkenalkan budaya mereka kepada dunia dengan cara yang lebih kreatif dan relevan.


Pada akhirnya, anak muda Kalteng hari ini tidak sedang memilih antara menjadi modern atau menjadi lokal. Mereka sedang membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan bersama. Di era global, identitas daerah bukan lagi beban masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan aset masa depan yang bisa menjadi sumber kebanggaan, kreativitas, dan bahkan peluang ekonomi bagi generasi muda Kalimantan Tengah. -red


Penulis: Emuna Asie Editor: Angel

Comments


bottom of page