3 hours ago3 min read



KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Kenapa sekarang anak muda di Kalimantan Tengah makin suka belajar dari YouTube daripada dari sekolah? Jawabannya tidak jauh-jauh dari kebiasaan sehari-hari mereka. Coba kita lihat, ketika ingin belajar desain grafis, ngedit video, latihan bahasa asing, mulai bisnis online, atau butuh bantuan buat ngerjain PR yang susah, mayoritas tidak langsung buka buku pelajaran. Mereka justru buka YouTube.
Ini sudah menjadi fenomena yang semakin ramai di kalangan pelajar dan mahasiswa. Buat generasi muda hari ini, YouTube tidak cuma jadi tempat cari hiburan, tapi berubah menjadi semacam sekolah online terbesar—mudah dijangkau, kapan aja, dari mana aja.
Ada alasan kuat di balik perubahan ini. Penggunaan internet di Indonesia terus meningkat. Data dari BPS tahun 2024 mengatakan, 79,51 persen penduduk usia lima tahun ke atas aktif mengakses internet. Anak muda adalah kelompok paling aktif, apalagi buat cari info atau materi pembelajaran.
Di Kalimantan Tengah sendiri, tren ini makin kelihatan. Akses internet sekarang jauh lebih luas, anak muda tidak harus pergi ke kota besar buat dapet ilmu baru. Siswa di Palangka Raya bisa pelajari teknik editing video yang sama persis seperti yang dipelajari anak-anak di Jakarta, Tokyo, bahkan New York, hanya memodalkan sebuah ponsel di tangan.
“Kalau ada materi yang rasanya susah dimengerti di kelas, aku biasanya langsung cari di YouTube. Penjelasannya bisa lebih gampang dipahami, soalnya ada gambar dan videonya,” kata Nabila Putri, siswi SMA dari Palangka Raya.
Fleksibilitas menjadi magnet utama mengapa YouTube digemari. Kalau belajar di kelas, waktunya kaku, terbatas jam pelajaran. Video di YouTube bebas, bisa diulang-ulang, dijeda kapan aja, bahkan dipercepat sesuai kebutuhan masing-masing.
Soal efektif atau tidak, terdapat buktinya. Sebuah penelitian di International Journal of Educational Technology in Higher Education menemukan bahwa belajar lewat video membuat konsep pelajaran jadi lebih masuk ke otak, karena visual dan audio digabung jadi satu. Banyak pelajar, pada akhirnya, lebih gampang memahami lewat cara ini dibanding cuma baca buku saja. Plus, punya kendali sendiri saat belajar bikin anak-anak jadi lebih aktif dan tidak cuma duduk manis nunggu pelajaran.
Materi yang dipelajari pun tidak terbatas hanya dipelajaran sekolah. Anak muda Kalteng pakai YouTube buat belajar hal-hal yang jarang disentuh di kelas formal. Mulai dari desain grafis, fotografi, editing video, coding, sampai marketing digital dan bahasa asing.
Laporan Digital 2025 Indonesia (DataReportal) juga ngasih tahu, YouTube masih jadi salah satu platform paling favorit di Indonesia. Banyak yang datang buat hiburan, tapi semakin banyak yang datang buat belajar juga.
Menariknya, kebiasaan ini ikut mengubah cara pandang generasi muda soal pendidikan. Dulu, sekolah dianggap satu-satunya sumber ilmu. Sekarang, sekolah jadi fondasi utama, tapi pengetahuan dan skill tambahan dicari lewat internet.
Apakah ini berarti sekolah menjadi tidak penting? tidak juga. Pendapat banyak ahli pendidikan, termasuk Prof. Anies Baswedan, jelas: teknologi itu pelengkap, bukan pengganti sekolah. Sekolah bukan cuma transfer ilmu akan tapi juga menjadi sarana untuk membangun karakter, kerja tim, komunikasi, disiplin, dan interaksi sosial. Semua itu susah banget didapat lewat layar HP.
Di sisi lain, tidak semua info di internet bisa dipercaya mentah-mentah. Literasi digital jadi tantangan utama. Menurut UNESCO, generasi muda penting punya kemampuan cek fakta, supaya bisa bedain mana info yang kredibel, mana yang sekadar hoaks. Tanpa skill ini, mudah banget tersesat di lautan informasi yang nggak jelas.
Tapi perkembangan ini sebenarnya peluang besar buat Kalimantan Tengah. Selama ini, pendidikan daerah sering terkendala akses ke sumber belajar. Internet mulai mengatasi masalah ini pelan-pelan. Sekarang, anak-anak dari pelosok bisa belajar materi yang sama kayak teman-teman mereka di kota besar.
Yang juga tidak kalah keren, anak muda sekarang jadi generasi pembelajar aktif. Mereka tidak cuma nunggu materi dikasih guru. Kalau mentok, langsung cari jawaban sendiri. Mereka belajar karena memang penasaran, bukan cuma karena harus lulus ujian.
Tapi, para pendidik selalu bilang, pilihan terbaik bukan tentang memilih sekolah atau YouTube. Dua-duanya saling melengkapi. Sekolah kasih dasar kuat, bimbingan, serta ruang buat tumbuh sosial. YouTube kasih akses luas dan skill yang lebih praktis.
Buat anak muda Kalteng, perubahan ini jelas banget terasa. Cara belajar udah berubah total. Ruang kelas sekarang nggak lagi sebatas empat dinding sekolah. Bisa ada di mana aja—di depan layar HP, laptop, ataupun tablet yang terhubung ke internet.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi soal mana yang lebih disukai—belajar di sekolah atau di YouTube. Yang penting, bagaimana caranya memaksimalkan kedua sumber ini. Supaya anak muda Kalimantan Tengah bisa belajar lebih banyak, lebih cepat, dan siap bersaing di masa depan. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Angel




Comments