7 hours ago3 min read



KALTENGNETWORK- Banyak orang mengira wacana pemindahan ibu kota Indonesia baru muncul beberapa tahun terakhir, ketika pembangunan IKN dimulai di Kalimantan Timur. Padahal, gagasan memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta sudah ada sejak masa awal kemerdekaan. Provinsi Kalimantan Tengah pernah menjadi kandidat terkuat.
Bahkan, Presiden pertama Indonesia, Sukarno, disebut memiliki ketertarikan besar terhadap Kalimantan Tengah sebagai “masa depan Indonesia”.
Lalu pertanyaannya: kenapa akhirnya Kalimantan Tengah tidak jadi ibu kota?
Pada akhir 1950-an, Sukarno mulai memikirkan masalah klasik Jakarta: terlalu padat, terlalu Jawa-sentris, dan terlalu rentan secara geopolitik. Jakarta berada di pesisir utara Pulau Jawa, dekat laut, rawan banjir, dan kepadatannya terus meningkat.
Sukarno ingin ibu kota yang lebih “Indonesia-sentris”, berada di tengah wilayah Nusantara, bukan hanya di Pulau Jawa. Karena itu, pandangannya tertuju ke Kalimantan.
Pilihan itu tidak sepenuhnya simbolik. Secara geografis, Pulau Kalimantan berada di tengah kepulauan Indonesia. Wilayahnya luas, relatif stabil dari ancaman gempa besar dan gunung api, serta masih memiliki ruang pembangunan yang sangat besar.
Kala itu, Palangka Raya bahkan dirancang dengan visi kota modern masa depan. Kota ini diresmikan langsung oleh Sukarno pada 1957. Jalan-jalannya dibuat lebar, tata kotanya dirancang luas, dan narasi yang berkembang saat itu menyebut Palangka Raya diproyeksikan sebagai calon ibu kota negara.

Bagi Sukarno, membangun ibu kota di tengah hutan Kalimantan bukan sekadar proyek fisik. Itu adalah simbol Indonesia baru: negara besar yang tidak terus bertumpu pada Jawa.
Masalah utamanya sederhana: Indonesia masih terlalu muda dan terlalu miskin.
Pada era 1950–1960-an, kondisi ekonomi Indonesia belum stabil. Negara baru saja melewati perang kemerdekaan, konflik politik dalam negeri, pemberontakan daerah, hingga ketegangan ideologi global era Perang Dingin.
Membangun ibu kota baru membutuhkan biaya luar biasa besar. Bukan hanya gedung pemerintahan, tetapi juga jalan, listrik, air, pelabuhan, bandara, rumah penduduk, hingga jaringan logistik. Padahal pembangunan dasar pun di banyak daerah Indonesia saat itu masih tertinggal.
Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, proyek ibu kota baru akhirnya lebih banyak berhenti sebagai visi besar daripada realisasi konkret.
Memasuki pertengahan 1960-an, Indonesia mengalami salah satu periode paling turbulen dalam sejarahnya. Ketegangan politik memuncak, ekonomi memburuk, dan situasi nasional berubah drastis setelah peristiwa 1965.
Di tengah kekacauan itu, ide pemindahan ibu kota praktis kehilangan prioritas.
Pemerintahan baru di bawah Suharto kemudian lebih fokus pada stabilitas politik dan pembangunan ekonomi terpusat. Jakarta justru berkembang semakin dominan sebagai pusat pemerintahan, bisnis, media, dan kekuasaan.
Alih-alih memindahkan ibu kota, negara malah semakin memusatkan segalanya ke Jakarta.
Akibatnya, mimpi besar Sukarno mengenai Palangka Raya perlahan memudar.
Selain faktor politik dan ekonomi, ada satu hal penting lain: infrastruktur Kalimantan pada masa itu masih sangat terbatas.
Transportasi antardaerah masih sulit, konektivitas minim, dan akses logistik mahal. Untuk menjadikan Kalimantan Tengah sebagai pusat pemerintahan nasional, negara harus membangun hampir semuanya dari nol.
Bahkan hingga hari ini, membangun infrastruktur di Kalimantan tetap jauh lebih menantang dibanding Pulau Jawa karena faktor geografis, hutan, sungai besar, dan kepadatan penduduk yang rendah.
Artinya, tantangan yang dihadapi Indonesia pada era Sukarno sebenarnya jauh lebih berat dibanding era sekarang.
Meski Kalimantan Tengah akhirnya tidak menjadi ibu kota, gagasan dasarnya ternyata tetap hidup selama puluhan tahun: Indonesia membutuhkan pusat pemerintahan baru di luar Jawa.
Dan puluhan tahun kemudian, ide itu akhirnya benar-benar diwujudkan melalui pembangunan IKN di Kalimantan Timur.
Secara menarik, keputusan itu menunjukkan bahwa gagasan Sukarno mungkin bukan terlalu ambisius, melainkan terlalu maju untuk zamannya.
Indonesia tahun 1960-an belum memiliki kapasitas ekonomi, teknologi, dan stabilitas politik untuk memindahkan ibu kota. Namun Indonesia abad ke-21 mulai memiliki kemampuan itu.

Mungkin tidak sepenuhnya.
Karena pada akhirnya, Kalimantan Tengah tetap tercatat dalam sejarah sebagai wilayah pertama yang secara serius dibayangkan menjadi pusat Indonesia masa depan.
Ia mungkin tidak menjadi ibu kota negara. Tetapi ide besarnya ikut membentuk arah cara Indonesia memandang dirinya sendiri: bahwa Indonesia tidak harus selalu berpusat di Jawa.
Dan mungkin, itu adalah warisan terpentingnya. -red
Penulis : Ivonne Hana
Editor : Emuna Asie




Comments