top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Karhutla Kalteng Capai 9.169 Hektare, 105.019 Hotspot Terdeteksi hingga 8 September

7 hours ago
3 min read
Petugas gabungan melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan di salah satu wilayah Kalimantan Tengah. (Foto: MMC Kalteng)
Petugas gabungan melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan di salah satu wilayah Kalimantan Tengah. (Foto: MMC Kalteng)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat penanganan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Hingga 8 September 2026, tercatat 105.019 titik hotspot secara kumulatif sejak awal tahun, dengan total luasan lahan terbakar mencapai 9.169,22 hektare.


Pada pemantauan harian 8 September 2026, terdeteksi 879 titik hotspot dari sejumlah satelit pemantauan. Rinciannya, Aqua/Terra sebanyak 19 titik, NOAA 800 titik, dan SNPP 60 titik.


Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalimantan Tengah Ahmad Toyib mengatakan pemerintah bersama seluruh unsur terkait terus mengoptimalkan penanganan secara terpadu, mulai dari pemadaman darat, dukungan operasi udara, patroli pencegahan hingga edukasi kepada masyarakat.


“Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama kabupaten/kota, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat terus bergerak melakukan penanganan di lapangan. Upaya dilakukan secara maksimal untuk mencegah api meluas serta meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan,” ujar Ahmad Toyib.


Berdasarkan rekapitulasi tersebut, tiga wilayah dengan luasan karhutla kumulatif terbesar yakni Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 2.447,84 hektare, Pulang Pisau 1.264,01 hektare, dan Kotawaringin Barat 1.103,74 hektare.


Aktivitas karhutla menunjukkan peningkatan sejak Agustus 2026. Pada bulan tersebut, tambahan luas area terbakar mencapai 4.898,06 hektare. Sementara sepanjang 1-8 September 2026, luas lahan terbakar kembali bertambah 2.581,38 hektare.


Khusus pada 8 September, tercatat 56 kejadian karhutla dengan luas area terdampak mencapai 202,47 hektare.


Untuk mempercepat penanganan, Pemprov Kalteng mengerahkan sekitar 10.700 personel gabungan dari berbagai unsur. Sebanyak 43 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tingkat provinsi juga dilibatkan dalam mendukung pengendalian karhutla di berbagai wilayah.


Penanganan dari udara turut diperkuat dengan mengoptimalkan enam unit helikopter untuk operasi water bombing serta satu unit pesawat patroli yang juga mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).


Dalam pelaksanaan OMC, pesawat C208B EX/PK-FPU digunakan untuk menaburkan bahan semai Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 1.000 kilogram di wilayah udara Kalimantan Tengah. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan peluang terbentuknya hujan di wilayah yang membutuhkan.


Selain penanganan kebakaran, pemerintah juga memantau dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Hingga 8 September 2026, tercatat 79.081 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dengan 6.734 kasus di antaranya terjadi pada minggu keempat Agustus 2026.


Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara menurun serta mengikuti informasi dan arahan dari instansi terkait.


Dari sisi penegakan hukum, penanganan terhadap dugaan pelanggaran karhutla juga terus dilakukan. Hingga kini, terdapat 32 kasus karhutla yang telah ditindaklanjuti secara hukum. Data Polda Kalteng mencatat 25 Laporan Polisi dengan 27 orang tersangka dan area terdampak sekitar 449 hektare.


Sementara itu, upaya pencegahan diperkuat melalui patroli terpadu dan sosialisasi larangan pembakaran lahan. Satbrimob Polda Kalteng bersama unsur terkait melakukan patroli dan edukasi di sejumlah wilayah rawan, di antaranya kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 21 dan Lapangan Tembak Brimob.


Kegiatan pencegahan juga melibatkan Balakar 654, Masyarakat Peduli Api (MPA), Tim Serbu Api Kebakaran (TSAK), serta kelompok relawan di berbagai wilayah.


Di Kota Palangka Raya, pemadaman dan pendinginan dilakukan secara intensif oleh Regu Posko Krisis, Dinas Pemadam Kebakaran, aparat keamanan, relawan dan masyarakat. Sejumlah lokasi yang mendapat penanganan antara lain Jalan Yos Sudarso Ujung, Petuk Katimpun Permai, Jalan Raflesia, Jalan Mahir Mahar, Jalan Adonis Samad, Jalan G. Obos hingga Jalan Matal.


Tim Damkar BPB-PK Kalteng juga menangani sejumlah titik kebakaran, termasuk lahan sekitar 0,5 hektare di kawasan Bukit Keminting belakang Rusun UPR, sekitar 0,90 hektare di Jalan Maduhara, serta penyekatan area terbakar sekitar 0,6 hektare di Jalan Duar Anyar.


Keterlibatan masyarakat melalui TSAK dan MPA turut menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla. Sejumlah kelompok melakukan pemadaman, pendinginan lahan gambut dan penyekatan untuk mencegah api meluas, termasuk TSAK Bukit Tunggal, TSAK Kalampangan, MPA Tumbang Nusa serta kelompok relawan lainnya.


Ahmad Toyib menegaskan pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, tidak hanya pemerintah dan petugas di lapangan. Menurutnya, pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan munculnya titik api baru dan mengurangi risiko kebakaran meluas.


“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Dukungan masyarakat sangat diperlukan, terutama dalam menjaga lingkungan, mencegah munculnya titik api baru, serta membantu memberikan informasi secara cepat kepada petugas di lapangan,” tegasnya.


Pemprov Kalteng akan terus melakukan evaluasi dan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman karhutla. Kesiapsiagaan personel, penguatan patroli dan pencegahan, optimalisasi pemadaman serta partisipasi masyarakat menjadi bagian dari strategi pengendalian yang dilakukan secara berkelanjutan.


Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran. Respons cepat terhadap titik api dinilai penting untuk mencegah kebakaran berkembang dan menimbulkan dampak lebih luas. -red


Penulis: Angel

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page