Karhutla Kalteng Capai 66 Kejadian dalam Sehari, Luas Lahan Terbakar 109,70 Hektare

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah masih meluas. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng mencatat 66 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 109,70 hektare dalam periode 24 jam hingga Minggu (18/10/2026) pukul 18.00 WIB.
Data infografis harian BPB-PK Kalteng juga menunjukkan terdapat 8.087 titik panas (hotspot) yang terdeteksi dalam periode tersebut. Kabupaten Kapuas menjadi wilayah dengan luasan kebakaran harian tertinggi.
Di Kapuas, lahan yang terbakar mencapai 38 hektare dari sembilan kejadian. Berikutnya, Kabupaten Barito Selatan mencatat 19,23 hektare dari enam kejadian, Kota Palangka Raya 15,95 hektare dari 12 kejadian, serta Kabupaten Seruyan 11,43 hektare dari delapan kejadian.
Secara akumulatif sejak 1 Januari hingga 18 Oktober 2026, jumlah titik panas di seluruh Kalteng mencapai 325.412 titik. Pada periode yang sama, tercatat 6.639 kejadian karhutla dengan perkiraan luas lahan terbakar mencapai 19.502,65 hektare berdasarkan laporan lapangan kabupaten dan kota.
Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan berperan aktif mencegah munculnya maupun meluasnya titik api.
Ia mengatakan, penanganan karhutla terus dilakukan melalui pengerahan personel gabungan dan armada pemadam, baik untuk operasi darat maupun udara. Koordinasi antara satuan tugas (Satgas), instansi terkait, dan masyarakat dinilai penting untuk menekan dampak kebakaran.
“Kami terus mengoptimalkan pengerahan seluruh personel gabungan dan armada pemadam, baik darat maupun udara, untuk menangani titik api yang muncul di wilayah Kalteng. Sinergi antara Satgas, instansi terkait, dan masyarakat sangat krusial demi mewujudkan komitmen Kalteng Bebas Kabut Asap 2026,” tegas Ahmad Toyib.
Untuk mendukung penanganan di lapangan, sebanyak 16.387 personel gabungan disiagakan. Operasi pemadaman juga didukung tujuh unit helikopter water bombing dan satu unit pesawat untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) sekaligus patroli. Sementara itu, sebanyak 53 kasus terkait penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan dilaporkan sedang diproses.
Dampak asap terhadap kesehatan dan pendidikan
Selain mengancam lingkungan, karhutla juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan kegiatan belajar mengajar. Pada minggu ketiga Oktober 2026, tercatat 5.916 kasus baru infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sehingga jumlah kasus sejak awal tahun mencapai 121.220 kasus. Pada pekan yang sama, dilaporkan pula 1.163 kasus diare.
Untuk mengurangi paparan asap terhadap peserta didik, sebanyak 223 sekolah di kabupaten dan kota telah mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Berdasarkan laporan tersebut, tidak ada sekolah di wilayah terdampak yang melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM).
Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga menyediakan 169 titik Rumah Oksigen yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan pertolongan awal ketika mengalami gangguan pernapasan.
Besarnya jumlah titik panas dan luas lahan terbakar menjadi perhatian bagi seluruh pihak. Upaya pemadaman, pencegahan kebakaran baru, serta perlindungan kesehatan masyarakat perlu terus diperkuat selama kondisi karhutla masih berlangsung.
-red
Penulis: Angel
Editor: Emuna Asie





















Comments