top of page

Generasi Festival: Kenapa Event Anak Muda Sekarang Lebih Ramai daripada Seminar?


Ilustrasi perbandingan antusiasme anak muda dalam menghadiri festival dan seminar. (Foto: Ilustrasi)
Ilustrasi perbandingan antusiasme anak muda dalam menghadiri festival dan seminar. (Foto: Ilustrasi)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Dulu, seminar, diskusi publik, atau pelatihan formal jadi kegiatan favorit untuk mahasiswa dan pelajar. Tapi suasana sekarang berubah banget. Di berbagai kota Kalimantan Tengah, event macam festival, creative market, konser komunitas, pameran UMKM muda, sampai acara olahraga dan hobi malah jauh lebih gampang menarik perhatian anak muda. Seminar konvensional mulai sepi peminat.


Situasi ini kelihatan jelas. Hampir setiap minggu ada festival kreatif, lari bareng komunitas, event otomotif, atau bazar UMKM muda yang penuh anak-anak usia 17–30 tahun di Palangka Raya. Seminar formal? Jangankan pengunjung ribuan, terkadang hanya puluhan saja yang datang.


Tren ini bukan cuma musiman. Banyak peneliti bilang, Gen Z punya cara baru dalam belajar, bersosialisasi, dan mencari pengalaman. Anak-anak internet terbiasa dengan aktivitas interaktif, bukan sekadar duduk dengar ceramah. Penelitian dari Universitas Indonesia pun setuju, mereka menemukan kepuasan anak muda hadir di sebuah event itu ditentukan oleh kualitas program dan pengalaman yang didapat.


Bagi anak muda, festival itu jauh lebih dari hiburan saja. Di sana, mereka ketemu orang baru, memperluas jaringan, belajar keterampilan, bahkan nemu peluang kerja atau bisnis. Satu event bisa jadi ajang dengerin musik, ikut workshop, belanja produk UMKM lokal, sambil sekalian membangun relasi dengan komunitas.


“Kalau seminar biasanya datang, duduk, dengar, lalu pulang. Kalau festival lebih seru karena bisa belajar sambil ikut aktivitas lain,” kata Dhea Lestari, mahasiswa Palangka Raya.


Pendapat Dhea makin kuat setelah lihat studi soal perilaku Gen Z. Motivasi hadir di acara buat mereka itu soal pengalaman, interaksi sosial, dan langsung terlibat. Bukan cuma terima informasi, mereka pengen jadi bagian dari pengalaman itu sendiri.


Media sosial juga berperan besar. Generasi sekarang hidup di dunia di mana pengalaman mereka bisa langsung diposting di Instagram, TikTok, dan platform lain. Event yang seru, unik, dan banyak ruang interaksi bakal cepat viral. Seminar formal yang hanya presentasi? Kurang bisa nyebar dan nggak terlalu menarik buat konten.


Tapi sebenarnya, tidak hanya soal konten. Anak muda mencari pengalaman yang otentik, ingin langsung berinteraksi, plus ada rasa memiliki di komunitas tertentu.


Fenomena ini juga berdampak ke ekonomi lokal. Festival bukan sekadar hiburan; kini jadi motor ekonomi kreatif. Studi soal festival komunitas Indonesia nemu acara kayak gini bikin ekosistem kolaborasi, pelaku UMKM, seniman lokal, komunitas, dan masyarakat saling terlibat dan dapat manfaat bersama.


Di Kalimantan Tengah, peluang baru terbuka. Anak muda tidak hanya jadi peserta, tapi mulai jadi penyelenggara, kreator konten, fotografer, videografer, desainer promosi, dan pelaku bisnis yang ikut terlibat di berbagai event. Festival, jadi ruang sosial sekaligus peluang ekonomi.


Bukan berarti seminar harus hilang. Seminar tetap punya peran penting buat pengembangan pengetahuan dan kompetensi, tapi tantangannya sekarang: gimana caranya bikin format yang lebih pas buat karakter generasi baru.


Beberapa kampus dan komunitas mulai menggabungkan seminar dengan festival—talkshow interaktif, workshop praktis, pameran karya, atau pertunjukan seni. Konsep seperti ini, terbukti lebih menarik anak muda. Pengalamannya lebih lengkap.


Intinya, festival makin ramai bukan karena anak muda malas belajar. Justru, mereka ingin belajar dan cari inspirasi, tapi dengan proses yang interaktif, sosial, dan nyata sesuai kebutuhan mereka.


Buat anak muda Kalimantan Tengah, festival hari ini sudah jadi tempat belajar, bertemu dengan orang, berkarya, dan membangun masa depan. Inilah alasan kenapa generasi festival makin tumbuh dan jadi bagian penting dari kehidupan generasi muda di daerah. Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana


Comments


bottom of page