Dinkes Kalteng Imbau Warga Waspadai Dampak Kabut Asap terhadap Kesehatan
- Fransisca Fethy Angelina
- 3 hours ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Kabut asap mulai menyelimuti Kota Palangka Raya dan sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah dalam beberapa hari terakhir. Kondisi yang diduga dipicu meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu menyebabkan kualitas udara menurun sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko gangguan kesehatan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, Mikko Uriamapas Ludjen, mengatakan peningkatan kadar partikel halus PM2.5 menjadi salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi membahayakan kesehatan.
“Peningkatan konsentrasi PM2.5 perlu kita sikapi secara serius karena partikel halus ini dapat masuk jauh ke saluran napas dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit seperti ISPA,” ujarnya di Palangka Raya, Selasa (28/7/2026).
Menurut Mikko, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah terus melakukan berbagai langkah pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat, penguatan kewaspadaan dini, serta koordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi dampak kabut asap.
Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Apabila harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker pelindung, seperti masker N95, dianjurkan untuk mengurangi paparan partikel berbahaya.
Selain itu, warga juga diminta menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan meminimalkan masuknya asap serta memberikan perhatian khusus kepada anggota keluarga yang termasuk kelompok rentan.
“Untuk kelompok rentan, kami mendorong agar paparan asap dapat diminimalkan, gejala kesehatan dipantau sejak dini, dan segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila muncul keluhan seperti batuk, sesak napas, atau gejala infeksi saluran pernapasan,” jelasnya.
Fasilitas Kesehatan Diminta Siaga
Mikko mengatakan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan juga terus diperkuat. Puskesmas hingga rumah sakit diminta meningkatkan kesiapsiagaan melalui penyediaan obat-obatan, oksigen, layanan edukasi kesehatan, serta sistem rujukan bagi pasien yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Ia menambahkan, paparan PM2.5 tidak hanya berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan, tetapi juga dapat memperburuk kondisi masyarakat yang telah memiliki penyakit paru maupun penyakit kronis lainnya.
“Perlindungan masyarakat harus dilakukan secara cepat dan terpadu melalui pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi risiko kesehatan, serta kesiapan layanan kesehatan di lapangan,” katanya.
Dinas Kesehatan juga mengimbau para orang tua menjaga anak-anak, terutama balita, dari paparan langsung kabut asap dengan memastikan kebutuhan cairan dan gizi tetap terpenuhi serta memantau kondisi kesehatan mereka.
Sementara itu, lansia serta penderita ISPA maupun asma diminta menghindari aktivitas berat, tetap menjalani pengobatan sesuai anjuran, dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau kondisi kesehatannya memburuk.
Anak-anak dan ibu hamil juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara menurun. Masyarakat yang mengalami keluhan seperti batuk berkepanjangan, pusing, sesak napas, atau gangguan kesehatan lainnya akibat paparan asap diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
Mikko berharap masyarakat tetap tenang, namun tidak mengabaikan kondisi kabut asap yang terjadi. Ia mengajak masyarakat mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dari instansi berwenang serta menerapkan langkah-langkah pencegahan sejak dini.
“Dengan kewaspadaan bersama dan tindakan pencegahan yang tepat, dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan,” pungkasnya. -red
Penulis: Angel
Editor: Wiyandri





















Comments