BPBD Palangka Raya Catat 109 Karhutla Sepanjang 2026, Jekan Raya Jadi Wilayah Terbanyak
- Fransisca Fethy Angelina
- Jul 28
- 2 min read

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kota Palangka Raya selama musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 109 kejadian karhutla terjadi sejak Januari hingga Juli 2026 dengan total luas lahan terbakar mencapai 42,34 hektare.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Pauzi, mengatakan Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi, yakni 74 kejadian. Selanjutnya Kecamatan Sebangau tercatat 19 kejadian, Kecamatan Pahandut 12 kejadian, dan Kecamatan Bukit Batu empat kejadian. Sementara Kecamatan Rakumpit hingga kini belum mencatat adanya kejadian karhutla.
Menurut Heri, BPBD Kota Palangka Raya bersama BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palangka Raya, TNI, Polri, serta relawan terus melakukan upaya pemadaman di berbagai lokasi.
Namun, proses penanganan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama akibat kondisi musim kemarau yang menyebabkan sumber air semakin terbatas.
“Kemarau kering saat ini membuat tim di lapangan cukup kesulitan mendapatkan akses air untuk pemadaman karhutla. Petugas harus mencari sumber-sumber air yang masih tersedia di pondok lahan warga, bahkan tidak jarang lokasinya cukup jauh dari titik api,” ujar Heri, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, banyak parit maupun kanal di sekitar lokasi kebakaran mengalami penyusutan bahkan mengering sehingga petugas harus memanfaatkan sumur bor milik warga yang berada di sekitar titik api.
Selain keterbatasan sumber air, karakteristik lahan gambut juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemadaman. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat hingga ke lapisan gambut di bawah tanah sehingga menyisakan bara api yang sulit dipadamkan secara menyeluruh.
Menurut Heri, kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan penyisiran secara intensif. Asap yang muncul di permukaan belum tentu berasal dari titik api yang sama karena struktur tanah gambut memungkinkan bara api merambat di bawah permukaan.
Akibatnya, tim pemadam harus melakukan pembasahan berulang pada area yang diduga masih menyimpan bara untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul.
Heri menegaskan, keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada upaya petugas di lapangan. Peran aktif masyarakat juga menjadi faktor penting dalam mencegah munculnya kebakaran baru.
Karena itu, BPBD Kota Palangka Raya terus mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca yang semakin kering selama musim kemarau. -red
Penulis: Angel
Editor: Ivonne Hana





















Comments