top of page

Ternyata Hobi Tidak Harus Selalu Menghasilkan Uang


Windah Basudara, seorang streamer sukses karena hobinya bermain game. (Gambar: Youtube WIndah Basudara)
Windah Basudara, seorang streamer sukses karena hobinya bermain game. (Gambar: Youtube WIndah Basudara)

KALTENGNETWORK- Dulu, hobi adalah sesuatu yang dilakukan untuk bersenang-senang.

Seseorang menggambar karena suka menggambar. Bermain musik karena menikmati musik. Menulis karena senang menuangkan pikiran. Memasak karena merasa rileks saat berada di dapur.


Tidak ada target. Tidak ada algoritma. Tidak ada tuntutan untuk menghasilkan uang.

Namun di era internet, hubungan kita dengan hobi mulai berubah.

Ketika seseorang pandai menggambar, komentar yang muncul sering kali bukan lagi, "Karyamu bagus."


Melainkan:

"Coba buka komisi, dong."

Ketika seseorang suka memasak:

"Kenapa nggak jualan aja?"

Ketika seseorang suka bermain game:

"Coba jadi streamer."

Ketika seseorang pandai menulis:

"Bisa jadi content creator tuh."

Seolah-olah setiap keterampilan harus memiliki nilai ekonomi.

Setiap kesenangan harus bisa dimonetisasi.

Setiap hobi harus berkembang menjadi side hustle.


Perubahan ini sebenarnya cukup masuk akal. Internet telah membuka peluang yang sebelumnya tidak pernah ada. Seorang ilustrator kini bisa mendapatkan klien dari luar negeri. Seorang musisi bisa membangun audiens tanpa harus bergabung dengan label rekaman. Seorang pembuat kue bisa menjual produknya melalui media sosial.


Bagi banyak orang, kemampuan mengubah hobi menjadi sumber penghasilan adalah sesuatu yang positif.

Masalahnya muncul ketika monetisasi bukan lagi pilihan, melainkan tekanan.

Lambat laun, seseorang mungkin mulai bertanya:

"Kalau hobiku tidak menghasilkan uang, apakah hobiku masih berguna?"

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi mencerminkan perubahan cara pandang yang cukup besar terhadap waktu luang dan kesenangan.


Dalam budaya yang semakin menekankan produktivitas, waktu sering dianggap sebagai sumber daya yang harus dimaksimalkan. Akibatnya, aktivitas yang tidak menghasilkan uang atau tidak meningkatkan karier terkadang dianggap kurang bernilai.

Padahal selama sebagian besar sejarah manusia, hobi tidak pernah dirancang untuk menjadi pekerjaan kedua.


Hobi ada karena manusia membutuhkan ruang untuk bermain, bereksperimen, dan menikmati sesuatu tanpa tekanan hasil.


Psikolog bahkan menemukan bahwa aktivitas yang dilakukan semata-mata karena kesenangan pribadi dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental, kreativitas, dan kesejahteraan secara umum. Ketika seseorang melakukan sesuatu karena benar-benar menyukainya, motivasi tersebut disebut sebagai intrinsic motivation atau motivasi intrinsik.


Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa memberikan imbalan eksternal secara berlebihan terhadap aktivitas yang awalnya dilakukan karena kesenangan dapat mengurangi motivasi intrinsik tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai overjustification effect.

Sederhananya, sesuatu yang awalnya menyenangkan bisa terasa seperti pekerjaan ketika terlalu banyak target, tekanan, dan ekspektasi yang melekat padanya.


Seorang fotografer yang awalnya memotret untuk bersenang-senang mungkin mulai merasa terbebani ketika setiap foto harus memenuhi keinginan klien. Seorang kreator yang awalnya membuat video karena suka berbagi cerita mungkin mulai kehilangan semangat ketika setiap unggahan diukur berdasarkan jumlah penonton dan pendapatan iklan.


Ironisnya, semakin sukses sebuah hobi menjadi pekerjaan, semakin besar kemungkinan hobi tersebut kehilangan fungsi awalnya sebagai sumber kesenangan.


Tentu saja tidak ada yang salah dengan menghasilkan uang dari sesuatu yang kita sukai. Banyak orang berhasil membangun karier yang memuaskan dari hobi mereka. Masalahnya bukan pada uangnya, melainkan pada anggapan bahwa semua hobi harus menghasilkan uang agar dianggap berharga.


Tidak semua hal perlu dioptimalkan.

Tidak semua keterampilan perlu dijual.

Tidak semua waktu luang perlu diubah menjadi produktivitas.

Kadang-kadang menggambar boleh hanya menjadi menggambar.

Bermain gitar boleh hanya menjadi bermain gitar.

Menulis boleh hanya menjadi menulis.


Karena nilai sebuah hobi tidak selalu terletak pada berapa banyak uang yang dihasilkan, tetapi juga pada bagaimana aktivitas tersebut membuat hidup terasa lebih menyenangkan.

Di tengah budaya yang terus mendorong kita untuk menjadi lebih produktif, mungkin mempertahankan satu hobi yang tidak menghasilkan apa-apa justru menjadi bentuk kebebasan yang semakin langka.


Internet telah memberi banyak orang kesempatan untuk menghasilkan uang dari hal yang mereka sukai. Namun tidak semua kesenangan harus berubah menjadi bisnis. Kadang-kadang, nilai terbesar dari sebuah hobi bukanlah pendapatan yang dihasilkan, melainkan fakta bahwa kita bisa melakukannya tanpa tekanan untuk menghasilkan apa pun selain kebahagiaan itu sendiri. -red


Penulis: Ivonne Hana

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page