top of page

Benarkah Barang Produksi Dulu Lebih Berkualitas?

Meme yang populer, perbedaan daya tahan barang elektronik dulu dan sekarang ternyata terasa. (Gambar: Reddit)
Meme yang populer, perbedaan daya tahan barang elektronik dulu dan sekarang ternyata terasa. (Gambar: Reddit)

KALTENGNETWORK-

"HP dulu lebih awet."
"Kulkas zaman dulu bisa dipakai puluhan tahun."
"Mesin cuci sekarang baru beberapa tahun sudah rusak."

Kalimat-kalimat seperti ini sering terdengar ketika membahas barang elektronik atau peralatan rumah tangga. Banyak orang merasa bahwa produk-produk zaman dulu dibuat lebih kokoh, lebih tahan lama, dan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan barang modern.


Namun benarkah demikian?


Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang kita kira.


Sebagian dari anggapan tersebut memang memiliki dasar. Banyak produk lama memang dirancang dengan fokus pada daya tahan dan kemudahan perbaikan. Pada masa ketika teknologi berkembang lebih lambat, produsen sering membuat produk yang dapat digunakan dalam waktu sangat lama karena siklus pergantian model tidak secepat sekarang.


Dahulu seseorang bisa menggunakan televisi yang sama selama belasan tahun tanpa merasa tertinggal zaman. Begitu pula dengan kulkas, radio, atau mesin cuci yang dirancang untuk menjalankan fungsi tertentu selama mungkin.


Di sisi lain, dunia saat ini bergerak jauh lebih cepat. Perkembangan teknologi membuat produk baru terus bermunculan dengan fitur tambahan, desain yang lebih modern, dan kemampuan yang lebih canggih. Akibatnya, produsen tidak hanya bersaing dalam kualitas, tetapi juga dalam kecepatan inovasi.


Ada sebuah konsep yang sering muncul dalam diskusi mengenai barang modern, yaitu planned obsolescence. Istilah ini merujuk pada strategi di mana suatu produk dirancang agar tidak bertahan selamanya, sehingga konsumen pada akhirnya akan membeli produk baru.


Bentuknya tidak selalu berupa kerusakan yang disengaja. Kadang-kadang sebuah perangkat masih berfungsi dengan baik, tetapi tidak lagi mendapatkan pembaruan perangkat lunak, sulit diperbaiki, atau suku cadangnya menjadi langka. Akibatnya, mengganti barang sering terasa lebih mudah dan lebih murah dibanding memperbaikinya.


Contoh yang sering dibahas adalah industri smartphone.

Setiap tahun, perusahaan teknologi besar meluncurkan model baru dengan kamera yang sedikit lebih baik, desain yang sedikit berbeda, atau fitur-fitur tambahan yang sering kali tidak benar-benar mengubah pengalaman pengguna secara drastis.


Salah satu contoh paling terkenal adalah lini iPhone yang diperbarui hampir setiap tahun. Menariknya, sebagian besar pengguna sebenarnya tidak mengganti ponselnya setiap tahun. Berbagai survei menunjukkan siklus penggantian iPhone rata-rata kini berada di kisaran tiga tahun atau lebih.


Namun peluncuran produk tahunan tetap memiliki fungsi penting: menjaga kesan bahwa teknologi selalu bergerak maju dan bahwa perangkat yang kita miliki perlahan mulai tertinggal. Bahkan ketika ponsel lama masih berfungsi dengan baik, kehadiran model baru dapat membuat perangkat yang kita gunakan terasa "kuno" secara psikologis.


Di sinilah pemasaran memainkan peran besar.

Setiap tahun, konsumen disuguhkan presentasi produk, iklan, ulasan teknologi, program tukar tambah, hingga berbagai perbandingan kamera dan fitur baru. Tujuannya bukan hanya menjual perangkat baru, tetapi juga membangun persepsi bahwa generasi terbaru adalah langkah berikutnya yang layak dimiliki. Beberapa strategi peluncuran bahkan dirancang untuk menjaga antusiasme dan mendorong siklus pembaruan produk secara berkelanjutan.


Menariknya, hal ini tidak selalu berarti perusahaan sengaja membuat produk lama cepat rusak. Dalam banyak kasus, perangkat lama masih dapat digunakan selama bertahun-tahun. Bahkan banyak pengguna merasa peningkatan antar generasi kini relatif kecil dibandingkan satu dekade lalu.


Karena itu, "keusangan" modern sering kali bukan soal barang yang berhenti berfungsi, melainkan barang yang dibuat terasa kurang menarik dibandingkan versi terbarunya.

Dengan kata lain, kadang yang menjadi usang bukan produknya, melainkan persepsi kita terhadap produk tersebut.


Namun sebelum menyalahkan seluruh industri modern, ada satu faktor psikologis yang perlu diperhatikan.

Bayangkan ada seribu kulkas yang diproduksi pada tahun 1980. Sebagian besar mungkin sudah rusak dan dibuang sejak lama. Yang masih kita lihat hari ini adalah beberapa unit yang kebetulan sangat awet.

Fenomena ini dikenal sebagai survivorship bias.


Kita cenderung menilai masa lalu berdasarkan contoh-contoh yang berhasil bertahan, sambil melupakan banyak produk lain yang gagal dan sudah menghilang. Akibatnya, muncul kesan bahwa semua barang zaman dulu berkualitas tinggi, padahal mungkin yang kita ingat hanyalah barang-barang terbaik yang berhasil bertahan hingga sekarang.


Hal yang sama terjadi pada mobil klasik, peralatan rumah tangga lama, bahkan musik dan film. Yang bertahan biasanya adalah yang memang cukup baik untuk diingat.

Selain itu, standar kualitas kita juga berubah. Sebuah telepon genggam tahun 2005 mungkin terkenal sangat awet karena bisa jatuh berkali-kali tanpa rusak. Namun jika dibandingkan dengan ponsel saat ini, perangkat tersebut memiliki kemampuan yang jauh lebih terbatas.


Ponsel modern pada dasarnya adalah kamera, komputer, navigator, pemutar musik, alat pembayaran, dan perangkat komunikasi yang digabungkan menjadi satu benda tipis yang muat di saku. Kompleksitas tersebut membuatnya jauh lebih sulit dirancang untuk bertahan selama puluhan tahun.


Ada pula faktor ekonomi yang jarang disadari. Konsumen modern sering menginginkan produk yang lebih murah, lebih ringan, lebih tipis, dan lebih canggih secara bersamaan. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, produsen harus membuat berbagai kompromi dalam desain dan material.


Dengan kata lain, sebagian barang modern memang tidak sekuat barang lama. Namun sebagian lainnya adalah hasil dari perubahan kebutuhan, teknologi, dan perilaku konsumen yang membuat definisi "produk bagus" menjadi berbeda dari masa lalu.


Pada akhirnya, anggapan bahwa semua barang jadul lebih berkualitas tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Beberapa produk lama memang dibuat untuk bertahan sangat lama. Namun kesan bahwa masa lalu selalu lebih baik juga diperkuat oleh nostalgia dan kecenderungan kita untuk hanya mengingat contoh-contoh terbaik yang berhasil bertahan hingga hari ini.


Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah barang zaman dulu lebih baik daripada barang sekarang. Melainkan apakah kita sedang membandingkan seluruh kenyataan masa lalu dengan hanya sebagian kecil kenangan terbaik yang masih tersisa.


Ketika seseorang berkata "barang dulu lebih awet", mereka mungkin ada benarnya. Namun saat kita melihat ke masa lalu, kita sering hanya melihat para "penyintas" yang berhasil bertahan puluhan tahun. Sama seperti cerita sukses yang lebih mudah terlihat daripada kegagalan, barang-barang jadul yang masih ada hingga sekarang mungkin bukan gambaran rata-rata, melainkan pengecualian yang berhasil melewati ujian waktu. -red


Penulis: Ivonne Hana

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page