Ratusan Pekebun Kotim Ikuti Pelatihan Sawit, Penguatan SDM Dinilai Kunci Daya Saing Industri
- Fransisca Fethy Angelina
- 2 hours ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Sebanyak 237 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengikuti pelatihan teknis yang digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sektor perkebunan sawit.
Pelatihan yang berlangsung pada 18–23 Juni 2026 di Palangka Raya tersebut mencakup bidang Budidaya Kelapa Sawit serta Panen dan Pascapanen. Sebanyak 149 peserta mengikuti pelatihan budidaya, sedangkan 88 peserta lainnya mendalami materi panen dan pascapanen.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, SP., MP., mengatakan peningkatan kualitas SDM menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan dan daya saing industri kelapa sawit Indonesia di tengah berbagai tantangan yang terus berkembang.
Menurutnya, keberhasilan industri sawit tidak hanya ditentukan oleh teknologi, modal, maupun penggunaan bibit unggul, tetapi juga oleh kualitas petani yang mengelola kebun secara langsung.
“Keberhasilan sawit Indonesia ke depan ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” ujar Idum saat membuka kegiatan, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan, sektor perkebunan kelapa sawit saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas, program peremajaan tanaman tua, hingga tuntutan pasar global terhadap penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan.
Selama pelatihan, para peserta mendapatkan materi terkait teknik pemeliharaan tanaman, pemupukan, konservasi tanah dan air, hingga standar panen yang baik guna meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil panen.
Idum menilai investasi terbaik bagi petani tidak hanya pada sarana produksi, tetapi juga pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Menurutnya, kesalahan dalam proses panen maupun pascapanen sering kali menyebabkan hilangnya potensi pendapatan yang seharusnya dapat diperoleh petani.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotawaringin Timur, Yephi Hartady Periyanto, mengajak petani sawit rakyat untuk terus meningkatkan kapasitas usaha sekaligus melengkapi legalitas kebun.
“Petani sawit harus terus meningkatkan kompetensinya. STDB adalah pintu gerbang untuk naik kelas karena menjadi syarat penting untuk mengakses berbagai program kemitraan, pelatihan, hingga sertifikasi,” katanya.
Ia menambahkan, petani juga perlu mulai menargetkan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) maupun Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) agar memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar nasional maupun internasional.
Menurut Yephi, peningkatan kompetensi yang dibarengi legalitas usaha serta penerapan prinsip keberlanjutan akan berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani sawit rakyat.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Perbenihan dan Budidaya Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Jayan Wahyudi, mengingatkan peserta agar memanfaatkan pelatihan secara maksimal dan membagikan ilmu yang diperoleh kepada petani lainnya.
“Kami berharap ilmu yang didapat selama pelatihan tidak berhenti pada peserta saja, tetapi dapat dibagikan kepada petani lain sehingga manfaatnya menjadi lebih luas,” ujarnya.
Jayan juga menekankan pentingnya pengurusan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) sebagai bagian dari legalitas kebun yang berpengaruh terhadap akses pasar serta stabilitas harga tandan buah segar (TBS).
Selain itu, pemahaman mengenai pola kemitraan dan akses informasi dinilai penting agar petani memiliki posisi tawar yang lebih baik, terutama ketika harga komoditas sawit mengalami fluktuasi.
“Kalau SDM petaninya meningkat, saya yakin produktivitas kebun dan kesejahteraan petani sawit di Kalimantan Tengah juga akan ikut meningkat,” pungkasnya.
Melalui pelatihan yang difasilitasi BPDP tersebut, diharapkan lahir pekebun sawit yang lebih profesional, produktif, serta mampu menghadapi tantangan industri sawit berkelanjutan di masa mendatang. -red
Penulis: Angel
Editor: Wiyandri
















Comments