Lima Orangutan Hasil Rehabilitasi Dilepasliarkan ke TN Bukit Baka Bukit Raya
- Fransisca Fethy Angelina
- 6 hours ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Upaya pelestarian satwa liar dan perlindungan keanekaragaman hayati kembali dilakukan melalui pelepasliaran lima individu orangutan Kalimantan ke habitat alaminya di Resort Tumbang Hiran, Seksi Pengelolaan Wilayah II Kasongan, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kamis (18/6/2026).
Pelepasliaran tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Balai TNBBBR, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), serta berbagai mitra nasional dan internasional.
Kegiatan ini menjadi pelepasliaran orangutan ke-47 yang dilakukan dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Palangka Raya. Kelima orangutan yang dilepasliarkan terdiri dari tiga individu betina dan dua individu jantan yang telah menyelesaikan seluruh tahapan rehabilitasi dan dinyatakan siap hidup mandiri di alam liar.
Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi, mengatakan setiap pelepasliaran merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus melestarikan populasi orangutan Kalimantan yang keberadaannya semakin terancam akibat hilangnya habitat dan aktivitas manusia.
“Pelepasliaran kali ini merupakan yang ke-47 bersama Yayasan BOS di Kalimantan Tengah. Kami mengapresiasi sinergi dan kerja sama yang terus terjalin dalam mendukung konservasi orangutan dan habitatnya sehingga upaya pelestarian ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Salah satu orangutan yang dilepasliarkan adalah Himba, jantan berusia 15 tahun yang ditemukan saat masih bayi dalam kondisi mengalami luka bakar akibat kebakaran hutan. Setelah menjalani rehabilitasi selama 14 tahun, Himba dinilai mampu bertahan hidup secara mandiri, termasuk mencari pakan alami dan beradaptasi dengan lingkungan hutan.
Selain Himba, terdapat Lykke, orangutan betina berusia 23 tahun yang menjalani rehabilitasi hampir 22 tahun sejak tiba di Nyaru Menteng bersama induknya ketika masih berusia sekitar satu bulan. Ada pula Farida, orangutan betina berusia 19 tahun asal Tumbang Samba yang menunjukkan kemampuan eksplorasi dan adaptasi yang baik selama masa pra-pelepasliaran.
Dua individu lainnya, Nett dan Semeru, juga dinyatakan siap kembali ke alam setelah melalui proses rehabilitasi yang panjang dan pemantauan intensif oleh tim konservasi.
Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, mengatakan keberhasilan pelepasliaran merupakan hasil dari kerja sama berbagai pihak yang selama ini mendukung program rehabilitasi dan konservasi orangutan.
Menurutnya, setiap orangutan yang kembali ke habitat alami membawa kisah perjuangan yang panjang. Pelepasliaran bukan hanya menjadi akhir dari proses rehabilitasi, tetapi juga menjadi awal kehidupan baru di alam liar.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa melalui kolaborasi, ilmu pengetahuan, dan komitmen bersama, upaya menjaga masa depan orangutan dan hutan Indonesia dapat terus dilakukan,” katanya.
Yayasan BOS juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra dan pendukung konservasi, baik dari dalam maupun luar negeri, yang telah berkontribusi dalam mendukung rehabilitasi, pelepasliaran, dan pelestarian habitat orangutan di Indonesia.
Melalui pelepasliaran tersebut, diharapkan populasi orangutan Kalimantan dapat terus terjaga dan berkembang secara alami, sekaligus memperkuat upaya pelestarian hutan hujan tropis sebagai salah satu penyangga utama kehidupan dan keanekaragaman hayati Indonesia. -red
Penulis: Angel
Editor: Emuna Asie
















Comments