Perbaikan Jembatan Sei Mentawa 1 Tertunda Akibat Pemangkasan Anggaran Pusat
- kaltengnetwork.com
- 5 hours ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor, mengungkapkan alasan belum terlaksananya perbaikan total Jembatan Patah yang berada di Jalan Kapten Mulyono Sampit, meskipun sebelumnya proyek tersebut telah masuk dalam rencana anggaran.
“Perbaikan Jembatan Patah sebenarnya sudah kami anggarkan, namun kemudian dicoret oleh pemerintah pusat. Hal yang sama juga terjadi pada rencana perbaikan jalan menuju Desa Kandan,” ujar Halikinnor di Sampit, Senin.
Kondisi Jembatan Sei Mentawa 1 yang dikenal sebagai Jembatan Patah kembali menjadi perhatian publik setelah insiden kecelakaan yang menewaskan satu orang dan menyebabkan satu korban lainnya dalam kondisi kritis di lokasi tersebut pada Sabtu (25/4).
Kecelakaan tersebut diduga terjadi akibat sepeda motor yang dikendarai korban kehilangan kendali saat melintasi jembatan yang berlubang, ditambah minimnya penerangan di kawasan tersebut. Setelah peristiwa itu, masyarakat mendesak pemerintah daerah agar segera melakukan perbaikan total terhadap jembatan tersebut.
Halikinnor menjelaskan bahwa proyek perbaikan Jembatan Patah sebenarnya telah masuk dalam rencana kerja sejak 2023, namun belum bisa direalisasikan karena adanya kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Ia menyebut anggaran untuk sektor infrastruktur justru menjadi salah satu yang terdampak pemangkasan.
“Yang dicoret oleh pemerintah pusat justru anggaran infrastruktur, termasuk jalan dan jembatan. Karena itu, saat musrenbang di provinsi yang dihadiri beberapa direktur jenderal, saya sampaikan agar anggaran yang sudah dikurangi tidak seluruhnya dikendalikan pusat,” ungkapnya.
Ia berharap hal tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah pusat dalam menentukan kebijakan, mengingat pemerintah daerah dinilai lebih memahami kebutuhan spesifik di wilayahnya masing-masing.
Halikinnor mencontohkan bahwa kebutuhan infrastruktur di Pulau Jawa dan Kalimantan memiliki perbedaan signifikan. Di Jawa, sebagian besar infrastruktur sudah memadai, sementara di Kalimantan, termasuk di Kotim, kondisi jalan dan jembatan masih banyak yang membutuhkan perhatian serius, bahkan di dalam wilayah perkotaan.
Meski demikian, Halikinnor menegaskan pemerintah daerah tetap melakukan upaya pemeliharaan rutin agar jembatan tersebut tetap dapat digunakan, sembari menunggu ketersediaan anggaran untuk pembangunan ulang secara menyeluruh.
“Pemeliharaan tetap kami lakukan sambil menunggu anggaran yang cukup, karena jembatan ini memang perlu dibangun kembali secara total,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya pengguna kendaraan, untuk ikut menjaga infrastruktur yang ada agar tetap bertahan. Selain itu, kendaraan bermuatan berat diminta tidak melintasi jembatan tersebut, terlebih saat ini Jalan Mohammad Hatta atau Lingkar Selatan sudah dalam kondisi baik sebagai jalur alternatif.
Secara terpisah, Pengawas Lapangan UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas terkait, Alfian, menyampaikan bahwa pemeliharaan Jembatan Patah telah dilakukan segera setelah insiden yang menelan korban jiwa tersebut.
“Pemeliharaan sudah selesai dilakukan, kondisi saat ini sudah aman. Namun, yang dilakukan hanya perbaikan rutin seperti penggantian kayu ulin yang rusak dan baut yang lepas, bukan perbaikan total,” jelas Alfian.
Ia menambahkan, pemeliharaan rutin biasanya dilakukan setiap dua hingga tiga bulan. Namun, dengan usia jembatan yang diperkirakan telah melampaui 20 tahun, perbaikan tersebut tidak mampu bertahan lama.
Menurutnya, banyak komponen jembatan seperti baut yang sudah longgar serta kayu ulin yang telah menua dan kualitasnya menurun. Bahkan, sebagian material yang digunakan merupakan kayu ulin bekas karena adanya pembatasan penggunaan kayu ulin baru.
Selain faktor usia, kerusakan jembatan juga dipicu oleh kendaraan dengan muatan berlebih yang kerap melintas. Padahal, kapasitas maksimal jembatan hanya 10 ton, sementara kendaraan yang melintas terkadang mencapai lebih dari 20 ton.
“Batas maksimal jembatan hanya 10 ton, itu pun sudah cukup berisiko dengan kondisi saat ini. Truk sembako masih relatif aman, tetapi kami sering menemukan kendaraan kontainer besar juga melintas di jembatan tersebut,” tutup Alfian. -red















Comments