7 hours ago3 min read



KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Belakangan ini, anak muda di Kalimantan Tengah terlihat semakin malas berurusan dengan organisasi formal. Dulu, OSIS, BEM, dan organisasi kepemudaan rasanya jadi “menu wajib”. Sekarang, banyak yang lebih suka gabung ke komunitas berbasis minat—mulai dari lari, fotografi, motor, esports, UMKM, hingga kopi dan dunia kreator konten. Komunitas-komunitas semacam ini muncul di hampir semua kota di Kalteng, dan makin hari anggotanya bertambah.
Bukan berarti organisasi formal jadi hilang peran. Cuma, anak muda memang butuh sesuatu yang lebih sesuai sama dunianya hari ini. Di komunitas, orang langsung ketemu teman-teman satu minat, bisa belajar skill baru, nambah teman, sampai buka peluang kerja. Semua bisa didapat tanpa harus bingung dengan struktur organisasi yang rumit dan panjang.
Kalau dilihat secara nasional, pergeseran ini tidak hanya terjadi di Kalteng. Data dari Susenas dan BPS nunjukkin kalau keterlibatan sosial anak muda sudah condong ke komunitas minat, bukan lagi organisasi hierarkis yang formal. Gaya hidup Gen Z memang makin geser ke kolaborasi, fleksibel, dan ruang yang memberi kebebasan berekspresi.
Hasil riset Indonesia Gen Z Report 2025 dari IDN Research Institute juga searah. Ada 72 persen anak muda Gen Z yang bilang lebih milih gabung kelompok yang bisa kasih manfaat langsung buat diri mereka daripada sekadar organisasi yang penuh jabatan dan struktur. Pengalaman, skill, dan koneksi benar-benar jadi prioritas buat mereka berkembang, baik urusan pribadi maupun profesional.
Di Kalimantan Tengah sendiri, semangat semacam ini nyata banget. Di Palangka Raya, komunitas lari dan olahraga makin ramai. Acara seperti fun run dan night run selalu ramai didatangi anak muda. Komunitas fotografi/videografi juga gencar bikin pelatihan, pameran foto, dan beragam proyek kreatif lintas profesi.
Ardo Putra, anggota komunitas kreatif di Palangka Raya, cerita, “Kalau di komunitas, langsung praktik dan belajar. Birokrasi ribet nggak ada. Yang datang memang pada suka hal yang sama.”
Hal lain, sekarang identitas sosial nggak lagi diukur dari jabatan di organisasi formal. Anak muda lebih suka dikenal lewat karya nyata, skill, dan kontribusi yang bisa langsung diukur.
Penelitian terbaru dari Journal of Youth Studies tahun 2024 mendukung ini. Gen Z memang cenderung membangun jaringan lewat komunitas berbasis minat. Komunitas memberi rasa punya (sense of belonging) yang lebih kental, nggak ribet dengan aturan dan hierarki.
Media sosial juga bikin pertumbuhan komunitas makin kencang. Dulu bikin kelompok butuh waktu dan repot, sekarang pakai WhatsApp, Instagram, Discord, atau Telegram semua bisa langsung kumpul. Anak muda Kalteng dari berbagai kota gampang banget nyari teman satu passion.
Tapi praktisi sosial bilang, organisasi formal dan komunitas, dua-duanya tetap penting. Organisasi masih ampuh buat melatih kepemimpinan, ngatur manajemen, dan memahami sistem yang terstruktur. Sementara komunitas jadi ruang eksperimental dan lebih bebas soal minat, inovasi, serta kolaborasi.
Generasi muda hidup di era yang serba dinamis, mereka tentu memilih wadah yang terasa langsung manfaatnya. Tapi tetap, kemampuan berorganisasi nggak bisa ditinggalkan, karena dunia kerja dan pembangunan daerah masih butuh orang yang bisa kerja rapi, terstruktur.
Hal menarik, komunitas juga mulai berdampak ke ekonomi lokal. Banyak pelaku UMKM muda dapat pelanggan dari komunitas, kreator konten dapat partner kolaborasi, bahkan beberapa komunitas sukses bikin event sampai ratusan peserta dan menggerakkan ekonomi kota.
Jadi, komunitas bukan lagi sekadar tempat nongkrong. Buat anak muda Kalteng, komunitas sudah menjadi sumber ilmu, lahan peluang, tempat bikin relasi, sampai pengembangan karier. Di era serba digital dan serba cepat, komunitas jelas memberi yang mereka cari yaitu relasi nyata, tujuan jelas, dan kesempatan berkembang bareng.
Makanya, pertanyaannya bukan lagi “Apakah komunitas bakal menggantikan organisasi formal?” Akan tetapi yang lebih penting adalah gimana dua-duanya bisa jalan bareng dan saling melengkapi, supaya anak muda Kalimantan Tengah makin kreatif, kolaboratif, dan siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana




Comments