50 minutes ago2 min read



KALTENGNETWORK- Dan terjadi lagi. Pada Sabtu, 23 Mei 2026 sepasang pengantin baru ditipu jasa penyelenggara acara. Hari yang harusnya menjadi kebahagiaan kedua mempelai, berubah menjadi mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Gedung dan dekor yang tidak pernah dilunasi, makanan yang tak pernah dipesan, serta keluarga yang kebingungan.
F (32) dan A (32), yang saat ini harusnya menikmati cuti dan bulan madu, malah harus bolak-balik kantor polisi dan menjawab berbagai pertanyaan wartawan. Wajah dan cerita mereka viral di mana-mana, Tiktok, Instagram, Youtube bahkan diliput TV. Uang puluhan juta harus melayang. Momen pernikahan tidak akan pernah kembali.
Di tengah kebisingan ini, warganet melontarkan komentar yang beragam. Ada yang bersimpati, ada yang ingin membantu korban, ada yang memuji gedung dan MC yang meskipun belum dibayar, bersedia menyediakan jasanya. Namun, ada pula yang menyalahkan korban.
Di tengah riuhnya pemberitaan, respons warganet pun terbelah. Ada yang bersimpati dan menawarkan bantuan. Ada yang mengapresiasi pihak gedung maupun MC yang tetap profesional meskipun belum menerima pembayaran penuh. Namun, tidak sedikit pula yang justru mempertanyakan keputusan korban.
“Kenapa tidak nikah sederhana saja di KUA?”
“Kalau memang murah banget, harusnya curiga dari awal.”
“Kok bisa percaya begitu saja tanpa cek latar belakang WO-nya?”
Kalimat-kalimat seperti ini terdengar logis di permukaan. Seolah hanya bentuk “kritik realistis” agar orang lain lebih berhati-hati. Namun, di saat korban sedang berada dalam situasi terpuruk, apakah komentar semacam itu benar-benar membantu? Atau justru memperparah luka yang sudah ada?
Inilah yang disebut sebagai victim blaming, atau kecenderungan menyalahkan korban atas musibah yang menimpanya. Fenomena ini bukan hal baru. Hampir setiap kali ada kasus penipuan, kekerasan, hingga pelecehan seksual, selalu muncul suara-suara yang mempertanyakan tindakan korban dibanding mengutuk pelaku.
Alih-alih fokus pada pihak yang melakukan penipuan, sebagian orang justru sibuk menilai keputusan korban. Seakan-akan, jika korban lebih pintar, lebih hati-hati, atau lebih sederhana, maka kejahatan itu tidak akan terjadi. Padahal, logika semacam ini secara tidak langsung memindahkan tanggung jawab dari pelaku kepada korban.
Cara berpikir ini berbahaya karena menciptakan ilusi bahwa dunia selalu berjalan adil: bahwa orang baik dan hati-hati pasti aman, sementara yang tertipu dianggap lalai. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Penipu bekerja dengan manipulasi, membangun kepercayaan, memanfaatkan celah psikologis, dan sering kali terlihat meyakinkan. Bahkan orang yang cerdas dan teliti pun tetap bisa menjadi korban.
Victim blaming juga menunjukkan rendahnya empati sosial. Banyak orang merasa dirinya lebih bijak ketika melihat masalah dari luar, tanpa benar-benar membayangkan posisi korban. Sangat mudah berkata “harusnya begini” ketika kita tidak sedang kehilangan uang, tidak dipermalukan di depan publik, dan tidak harus menghadapi hancurnya salah satu momen paling penting dalam hidup.
Fenomena ini bahkan lebih parah dalam kasus kekerasan seksual. Korban sering ditanya kenapa tidak melawan, kenapa berada di tempat tertentu, atau kenapa memakai pakaian tertentu. Pertanyaan-pertanyaan itu secara tidak sadar menggeser fokus dari tindakan pelaku kepada perilaku korban. Akibatnya, korban merasa dihakimi, malu untuk berbicara, bahkan takut mencari bantuan.
Tentu, kehati-hatian tetap penting. Masyarakat boleh belajar dari suatu kasus agar kejadian serupa tidak terulang. Namun ada perbedaan besar antara edukasi dan penghakiman. Edukasi berangkat dari niat melindungi, sementara victim blaming lahir dari kebutuhan merasa lebih benar dibanding korban.
Pada akhirnya, kualitas sumber daya manusia tidak hanya diukur dari kecerdasan atau kemampuan berkomentar di media sosial. Empati juga merupakan bentuk kecerdasan. Kemampuan melihat masalah secara utuh, memahami situasi orang lain, dan mengetahui kapan harus menahan penghakiman adalah tanda kedewasaan sosial yang sesungguhnya.
Karena ketika musibah terjadi, yang paling dibutuhkan korban bukan ceramah tentang apa yang “seharusnya dilakukan”, melainkan rasa kemanusiaan. -red
Penulis : Ivonne Hana
Editor : Emuna Asie




Comments