top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Hotspot Karhutla Kotim Capai 3.840 Titik, Luas Lahan Terbakar Tembus 1.317 Hektare

Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur. (Foto: Istimewa)
Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur. (Foto: Istimewa)

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menunjukkan peningkatan. Hingga 18 Agustus 2026, jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi sepanjang tahun mencapai 3.840 titik, sementara luas lahan yang terbakar hingga 17 Agustus mencapai 1.317,1489 hektare.


Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengatakan data tersebut merupakan rekapitulasi hotspot per 18 Agustus 2026 pukul 13.24 WIB.


Jumlah tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan sepanjang 2025 yang hanya mencatat 453 titik hotspot. Lonjakan paling tinggi terjadi pada Agustus dengan 3.323 titik.


Sebelumnya, hotspot yang tercatat masing-masing sebanyak 121 titik pada Januari, dua titik pada Februari, 39 titik pada Maret, 22 titik pada April, sembilan titik pada Mei, 34 titik pada Juni, dan 290 titik pada Juli.


Berdasarkan sebarannya, Kecamatan Teluk Sampit menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 829 titik. Sebanyak 810 titik di antaranya terdeteksi pada Agustus.


Kota Besi berada di urutan berikutnya dengan 551 titik, disusul Mentaya Hilir Selatan 434 titik, Mentaya Hilir Utara 397 titik, Seranau 314 titik, serta Baamang dan Mentawa Baru Ketapang masing-masing 309 titik.


Hotspot juga terdeteksi di Antang Kalang sebanyak 124 titik, Bukit Santuai 103 titik, Telawang 94 titik, Cempaga 70 titik, Telaga Antang 67 titik, Parenggean 66 titik, Mentaya Hulu 64 titik, Cempaga Hulu 63 titik, Tualan Hulu 32 titik dan Pulau Hanaut 14 titik.


Sementara itu, berdasarkan data penanganan hingga 17 Agustus 2026, BPBD Kotim mencatat 354 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.317,1489 hektare.


Baamang menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 145 kejadian dengan luas lahan terbakar 122,1 hektare. Mentawa Baru Ketapang menyusul dengan 140 kejadian dan luas 172,7 hektare.


Namun dari sisi luasan, Seranau menjadi wilayah yang paling terdampak. Dari empat kejadian yang tercatat, luas lahan terbakar mencapai 703,5 hektare atau sekitar 53,41 persen dari total luasan karhutla di Kotim.


Selanjutnya, Mentaya Hilir Utara mencatat 16 kejadian dengan luas 83,2 hektare, Kota Besi 14 kejadian dengan 33,6 hektare, Telawang 13 kejadian dengan 13,05 hektare, dan Mentaya Hilir Selatan enam kejadian dengan luas 30 hektare.


Parenggean tercatat lima kejadian dengan luas 58,5 hektare, Pulau Hanaut empat kejadian dengan 82,65 hektare, Teluk Sampit empat kejadian dengan 13,3 hektare, Cempaga Hulu satu kejadian dengan dua hektare, Mentaya Hulu satu kejadian dengan 1,45 hektare, serta Cempaga satu kejadian dengan satu hektare.


Sementara Antang Kalang, Telaga Antang, Bukit Santuai dan Tualan Hulu belum tercatat memiliki kejadian penanganan maupun luasan lahan terbakar dalam data tersebut.


Multazam mengatakan peningkatan jumlah kejadian dan luasan karhutla menjadi perhatian serius karena kondisi di lapangan masih berkembang.


“Situasi ini memang ada peningkatan dari sisi jumlah kejadian dan juga perluasan. Ada yang dapat kami datangi, ada yang tidak dapat kami jangkau,” ujarnya.

Kondisi lahan gambut juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemadaman. Api yang terlihat sudah padam belum tentu sepenuhnya aman karena masih dapat menjalar di bawah permukaan tanah.


“Kami tidak bisa menyatakan itu situasi padam, karena gambut ketika padam itu ekstra penanganannya,” jelas Multazam.

Di tengah kondisi tersebut, petugas disebut harus bekerja hingga 14–16 jam dalam sehari. Penanganan dilakukan BPBD bersama Satgas Karhutla dan berbagai pihak untuk memantau serta menekan perluasan kebakaran.


Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, peningkatan kewaspadaan dan respons cepat menjadi penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. -red


Penulis: Angel

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page