top of page

Ditinggal Anak Muda, Sejumlah Desa Transmigrasi Kalteng Terancam Mati Perlahan

Lanskap kawasan permukiman yang dikelilingi oleh luasnya hamparan hutan hijau di salah satu wilayah Kalimantan Tengah. (Foto: Dok. Kalteng Network)
Lanskap kawasan permukiman yang dikelilingi oleh luasnya hamparan hutan hijau di salah satu wilayah Kalimantan Tengah. (Foto: Dok. Kalteng Network)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Di tengah luasnya hamparan hutan dan jalan-jalan panjang Kalimantan Tengah, terdapat sejumlah kawasan transmigrasi yang dulu dibangun dengan harapan besar. Rumah-rumah berjajar rapi, lahan dibuka, fasilitas dasar disiapkan, dan ribuan keluarga datang membawa mimpi kehidupan baru. Namun puluhan tahun kemudian, sebagian kawasan itu justru berubah menjadi sunyi.


Desa transmigrasi itu sendiri adalah permukiman baru yang dibentuk melalui program pemerintah untuk memindahkan penduduk dari daerah padat ke daerah yang lebih sepi. Tujuannya adalah pemerataan penduduk, pengembangan wilayah.


Beberapa desa transmigrasi di Kalimantan Tengah kini menghadapi persoalan penurunan jumlah penduduk, minim aktivitas ekonomi, hingga banyak rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya. Di sejumlah titik, suasana sepi itu bahkan memunculkan istilah yang mulai sering terdengar di masyarakat: “kota hantu di tengah hutan”. Fenomena ini bukan berarti seluruh program transmigrasi gagal. Banyak kawasan transmigrasi yang berhasil berkembang menjadi pusat pertanian dan permukiman baru. Namun di sisi lain, ada pula desa-desa yang pertumbuhannya berjalan lambat dan mulai kehilangan generasi mudanya.


Anak-anak muda di desa kini lebih memilih pergi ke kota seperti Palangka Raya, Sampit, atau bahkan keluar Kalimantan untuk mencari pekerjaan dan pendidikan yang dianggap lebih menjanjikan. Sementara orang tua mereka tetap tinggal menjaga lahan yang hasilnya tidak selalu stabil.


“Yang muda banyak pergi. Tinggal orang tua saja sekarang,” ungkap Rini seorang warga di kawasan transmigrasi wilayah barat Kalteng.


Faktor ekonomi menjadi alasan utama. Sebagian desa transmigrasi masih menghadapi keterbatasan akses jalan, jaringan internet yang lemah, serta minimnya lapangan kerja di luar sektor pertanian tradisional. Ketika harga komoditas turun, penghasilan warga ikut terpukul.


Di beberapa kawasan, fasilitas umum yang dulu dibangun mulai jarang digunakan. Ada sekolah dengan jumlah murid yang terus berkurang, kios yang tutup, hingga rumah-rumah yang perlahan rusak karena ditinggalkan pemiliknya merantau.


Namun di balik kondisi itu, muncul pertanyaan besar, apakah desa-desa ini benar-benar sedang mati, atau hanya belum menemukan bentuk ekonomi baru?


Pengamat pembangunan wilayah menilai desa transmigrasi di Kalimantan Tengah sebenarnya masih memiliki potensi besar jika mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Letak lahan yang luas, sumber daya alam melimpah, dan biaya hidup yang relatif rendah justru bisa menjadi modal masa depan.


Transformasi digital dinilai menjadi salah satu kunci. Kehadiran internet yang memadai dapat membuka peluang baru bagi masyarakat desa, mulai dari pemasaran hasil pertanian secara online, UMKM lokal, hingga pekerjaan jarak jauh yang kini mulai berkembang di Indonesia.


Selain itu, konsep ekonomi kreatif berbasis desa juga mulai dilirik. Beberapa daerah di Indonesia berhasil mengubah kawasan yang sempat tertinggal menjadi desa wisata, pusat produk lokal, hingga sentra pangan modern.


Kalimantan Tengah memiliki peluang serupa. Desa-desa transmigrasi dapat diarahkan menjadi kawasan pertanian terpadu, agrowisata, hingga pusat produksi pangan untuk mendukung kebutuhan Ibu Kota Nusantara (IKN) di masa depan.


Pemerintah daerah sendiri mulai mendorong pembangunan berbasis wilayah strategis untuk membuka konektivitas ekonomi antardaerah. Jika langkah ini diiringi pemerataan akses pendidikan, teknologi, dan lapangan kerja, desa-desa yang kini terlihat sepi bukan tidak mungkin bisa kembali hidup.


Fenomena “kota hantu” di Kalteng pada akhirnya bukan hanya soal rumah kosong atau jalan yang sunyi. Ini adalah gambaran perubahan zaman ketika desa harus berjuang menyesuaikan diri dengan dunia yang bergerak semakin cepat.


Pertanyaannya sekarang bukan sekadar bagaimana mempertahankan penduduk agar tetap tinggal, tetapi bagaimana membuat generasi muda percaya bahwa masa depan juga bisa dibangun dari desa di tengah hutan Kalimantan. -red Penulis: Emuna Asie Editor : Ivonne Hana

Comments


bottom of page