2 hours ago3 min read



KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Dulu, profesi impian anak muda itu tidak jauh-jauh dari jadi PNS, guru, dokter, atau karyawan perusahaan besar. Tapi sekarang, daftar itu makin panjang. Di era media sosial kayak sekarang, pilihan makin beragam—banyak yang ingin jadi kreator konten, YouTuber, podcaster, videografer, atau mengelola media digital. Nah, pertanyaannya, bikin konten soal Kalimantan Tengah itu bisa jadi karier beneran nggak sih?
Pertanyaan ini semakin penting belakangan ini, soalnya kreator lokal Kalteng justru makin ramai. Kita lihat aja, ada yang bikin konten wisata, kuliner khas Dayak, kehidupan pedalaman, bisnis UMKM, sampai gaya hidup anak muda di kota. Dengan TikTok, YouTube, Instagram, dan Facebook, siapa aja bisa jadi produsen cerita dan punya audiens sendiri.
Tren ini nyambung banget sama dorongan ekonomi kreatif di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi kreatif akan menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja tahun 2025—itu sekitar 18,7% dari total tenaga kerja nasional. Ekonomi kreatif ini luas, mulai dari konten digital, desain komunikasi visual, fotografi, sampai film dan media baru yang cukup digandrungi generasi Z sama milenial. Sektor ini bukan pelengkap lagi, sekarang malah jadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.
Kalau lihat tingkat nasional, peluang buat para kreator juga makin terbuka lebar. Menurut laporan Digital 2025 Indonesia, sekarang ada lebih dari 143 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia. Audiens sebesar itu bikin peluang monetisasi lewat iklan, kerja sama brand, pemasaran afiliasi, atau jual produk digital terus bertambah.
Buat Kalteng, sebenarnya peluangnya unik. Selama ini, kebanyakan konten digital didominasi kreator dari Jawa. Banyak cerita lokal daerah lain yang belum terangkat. Padahal, Kalteng punya kekayaan budaya, lanskap alam, dan kehidupan sosial yang warna-warni.
Lihat saja Taman Nasional Sebangau, Sungai Kahayan, tradisi masyarakat Dayak, kuliner seperti juhu singkah dan wadai tradisional, atau kehidupan desa di pinggiran sungai. Semua itu menarik, tapi belum banyak yang bener-bener mengangkatnya dengan cara profesional dan konsisten.
“Orang luar sering penasaran sama hal-hal yang buat kita sehari-hari sudah biasa. Justru di situ letak uniknya,” kata Arif Pratama, kreator video perjalanan yang pernah jelajahi beberapa wilayah di Kalimantan.
Ini juga sejalan sama tren dunia. Riset dari Goldman Sachs bilang, ekonomi kreator diperkirakan nilainya tembus US$480 miliar di tahun 2027—nyaris dua kali lipat dari sebelumnya. Orang makin banyak mengonsumsi konten digital, model monetisasi juga makin beragam.
Tapi ya, membangun karier dari konten lokal nggak sesimpel upload video lalu nunggu viral. Tantangan paling gede itu konsistensi. Banyak kreator baru berhenti di tengah jalan karena audiensnya lambat naik atau belum dapat penghasilan tetap.
Masalah lain, kualitas produksi. Di tengah banjirnya video baru setiap hari, cuma konten dengan cerita kuat, visual bagus, dan ciri khas jelas yang biasanya bisa bertahan.
Tantangan lainnya lagi, di Kalteng ekosistem kreatif masih terbilang terbatas. Studio kreatif, pelatihan profesional, dan jaringan industri belum sebanyak di Jakarta atau Surabaya. Tapi sekarang teknologi cukup membantu, kok. Banyak anak muda belajar otodidak lewat internet, bahkan kolaborasi lintas kota bisa jalan tanpa harus pergi ke mana-mana.
Menariknya, tren ini bikin anak muda mulai ngelihat karier dengan cara yang berbeda. Survei global Morning Consult menunjukkan, Gen Z banyak yang tertarik jadi kreator konten karena ngerasa lebih leluasa berkarya dan peluang ekonominya besar.
Di Kalimantan Tengah, peluang ini sebenarnya bukan cuma soal individu. Konten lokal juga bisa promosi wisata, ngenalin budaya, bantu UMKM, dan nunjukin potensi investasi. Sukses satu kreator, bisa bawa dampak lebih luas buat daerah.
Walau begitu, pelaku industri kreatif ingetin juga: jadi kreator konten itu bukan sekadar soal cari popularitas. Perlu skill dan strategi. Mulai dari nulis cerita, ngambil gambar, ngedit video, tahu algoritma platform, sampai bangun kedekatan sama audiens. Semua itu bagian dari pekerjaan, bukan iseng semata.
Buat anak muda Kalteng, pertanyaan ‘konten lokal bisa jadi karier masa depan nggak sih?’ kayaknya mulai terjawab sekarang. Dengan perkembangan teknologi, konsumsi digital yang makin naik, dan banyaknya cerita daerah yang belum terangkat, peluang itu nggak cuma wacana.
Pada akhirnya, tantangan terbesarnya bukan soal ‘ada nggak pasarnya’, tapi siapa yang siap menceritakan Kalteng secara menarik, konsisten, dan profesional. Kalau ada yang bisa jawab tantangan itu, konten lokal bakal lebih dari sekadar ekspresi diri—dia bisa jadi profesi menjanjikan buat generasi muda Kalteng di masa depan. Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana




Comments