10 hours ago3 min read



KALTENGNETWORK- "Tenang aja, nanti Sabtu-Minggu aku tidur seharian."
Kalimat ini mungkin terdengar familiar bagi banyak orang. Setelah lima hari berturut-turut tidur larut malam karena pekerjaan, tugas kuliah, atau sekadar menonton serial hingga dini hari, akhir pekan sering dianggap sebagai waktu untuk "membayar utang tidur".
Namun, benarkah tubuh manusia bekerja seperti rekening bank? Jika kurang tidur selama seminggu, apakah semuanya bisa dilunasi hanya dengan tidur lebih lama di hari libur?
Para ahli menggunakan istilah sleep debt atau utang tidur untuk menggambarkan akumulasi kekurangan tidur yang terjadi ketika seseorang terus-menerus tidur lebih sedikit dari kebutuhan tubuhnya.
Misalnya, seseorang membutuhkan sekitar 8 jam tidur setiap malam, tetapi hanya tidur 6 jam selama lima hari kerja.
Artinya, ia telah kehilangan sekitar 10 jam tidur dalam seminggu.
Karena itulah banyak orang mencoba "mengembalikan" jam tidur yang hilang saat akhir pekan tiba.
Penelitian menunjukkan bahwa tidur lebih lama setelah periode kurang tidur memang dapat membantu tubuh pulih dalam beberapa aspek.
Misalnya mengurangi rasa kantuk, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan konsentrasi jangka pendek.
Inilah alasan mengapa setelah tidur 10–12 jam di hari Minggu, seseorang sering merasa jauh lebih segar dibandingkan sebelumnya.
Namun, ada satu masalah.
Beberapa dampak kurang tidur tidak bisa langsung hilang hanya dengan satu atau dua malam tidur panjang.
Kurang tidur kronis dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh, metabolisme, regulasi gula darah, fungsi kognitif, bahkan kesehatan jantung.
Tubuh memang bisa memperbaiki sebagian kerusakan, tetapi prosesnya tidak selalu instan.
Bayangkan seperti menunggak olahraga selama satu bulan. Berolahraga selama tiga jam di hari Minggu tentu lebih baik daripada tidak sama sekali, tetapi hasilnya tidak akan sama dengan rutin berolahraga setiap hari.
Ada efek lain yang sering terjadi ketika seseorang tidur terlalu larut pada hari kerja lalu tidur sangat lama saat akhir pekan.
Fenomena ini disebut social jetlag.
Secara sederhana, tubuh memiliki jam biologis internal yang mengatur kapan kita merasa mengantuk dan kapan kita merasa segar.
Ketika jadwal tidur berubah drastis antara hari kerja dan akhir pekan, tubuh bisa mengalami kebingungan yang mirip dengan jet lag setelah penerbangan jarak jauh.
Akibatnya, banyak orang mengalami sulit tidur Minggu malam dan sulit bangun Senin pagi.
Inilah alasan mengapa istilah "Monday blues" terasa begitu nyata bagi sebagian orang.
Tidur lebih lama sesekali bukanlah masalah.
Bahkan jika kamu memang kurang tidur selama beberapa hari, tambahan waktu tidur pada akhir pekan dapat memberikan manfaat.
Namun, para ahli umumnya sepakat bahwa strategi terbaik tetaplah menjaga jadwal tidur yang relatif konsisten setiap hari.
Dengan kata lain, tidur 7–8 jam setiap malam lebih baik daripada tidur 5 jam selama lima hari lalu 12 jam saat akhir pekan. Tubuh manusia menyukai rutinitas. Semakin stabil jadwal tidur kita, semakin baik pula kualitas istirahat yang didapatkan.
Menariknya, penyebab kurang tidur saat ini tidak selalu karena pekerjaan atau tugas.
Banyak orang mengalami apa yang disebut revenge bedtime procrastination.
Yaitu kebiasaan menunda tidur untuk mendapatkan waktu luang setelah seharian sibuk.
Padahal keesokan harinya tetap harus bangun pagi.
Ironisnya, semakin kita merasa membutuhkan waktu untuk bersantai, semakin besar kemungkinan kita mengorbankan waktu tidur.
Tidur lebih lama di akhir pekan memang dapat membantu tubuh memulihkan sebagian efek kurang tidur. Namun, itu bukan "tombol reset" ajaib yang bisa menghapus seluruh dampak begadang selama seminggu.
Karena pada akhirnya, kualitas tidur yang baik bukan soal berapa lama kita tidur di hari Minggu, melainkan seberapa konsisten kita beristirahat setiap hari. -red
Penulis: Ivonne Hana
Editor: Emuna Asie




Comments