top of page

Search Results

2812 results found with an empty search

  • Forkopimda Kalteng Perkuat Sinergi Jaga Program Pembangunan Tetap Berjalan Optimal

    Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran saat menjadi narasumber pada Talkshow Pemprov Kalteng dan Forkopimda terkait pembangunan daerah di Palangka Raya, Minggu (24/5/2026). (Foto. Dok. MMC Kalteng) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menegaskan komitmen untuk menjaga keberlanjutan pembangunan dan pelayanan publik di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat. Komitmen tersebut disampaikan dalam talkshow bertajuk “Sinergi Forkopimda Kalimantan Tengah” yang digelar di Palangka Raya, Minggu malam (24/5/2026). Talkshow menghadirkan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, Pangdam Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan, serta Kabinda Kalteng Muhammad Nurwah. Dalam diskusi tersebut, Gubernur Agustiar Sabran menegaskan efisiensi anggaran bukan menjadi hambatan pembangunan, melainkan langkah untuk memastikan penggunaan anggaran lebih efektif dan tepat sasaran. Menurutnya, sejumlah pengeluaran yang dinilai kurang prioritas seperti perjalanan dinas, alat tulis kantor, hingga rapat di hotel telah dikurangi agar anggaran dapat difokuskan pada program yang langsung menyentuh masyarakat. “Hasil efisiensi itu kami arahkan untuk mendukung program prioritas agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, baik di perkotaan maupun wilayah pedalaman,” ujarnya. Ia menyebut sejumlah program strategis tetap berjalan, di antaranya Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS), layanan kesehatan gratis berbasis KTP, hingga program pendidikan Satu Rumah Satu Sarjana. Selain itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga terus memperkuat pemerataan akses pendidikan melalui pemanfaatan teknologi digital dan jaringan internet hingga ke wilayah pelosok. Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan menyampaikan bahwa jajaran kepolisian siap mendukung dan mengawal seluruh program pemerintah agar berjalan aman dan tepat sasaran, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, pengawasan juga dilakukan terhadap standar keamanan dan kualitas makanan agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat. Sementara itu, Pangdam Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin menegaskan TNI terus mendukung pembangunan daerah, termasuk melalui keterlibatan dalam pendataan penerima manfaat program pemerintah dan penguatan ekonomi masyarakat melalui Program Koperasi Merah Putih. Ia mengakui kondisi geografis Kalimantan Tengah menjadi tantangan tersendiri, namun pihaknya tetap berkomitmen mendukung pembangunan infrastruktur dan konektivitas antarwilayah. Di sisi lain, Kabinda Kalteng Muhammad Nurwah menyoroti pentingnya penguatan sinergi dan deteksi dini untuk menangkal penyebaran hoaks yang dapat memicu disinformasi di tengah masyarakat. Seluruh jajaran Forkopimda sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama menjaga stabilitas daerah sekaligus mendukung pembangunan Kalimantan Tengah menuju Indonesia Emas 2045. -red Penulis: Angel Editor: Emuna Asie Sumber: MMC Kalteng

  • Tari Kreasi Murung Raya Raih Predikat Penyaji Favorit di FBIM 2026

    Tim tari Kabupaten Murung Raya saat tampil pada parade tari kreasi FBIM 2026 di GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, Sabtu (23/5/2026). (Foto. Dok. Pribad) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Tim tari Kabupaten Murung Raya berhasil meraih penghargaan kategori Penyaji Favorit pada ajang Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 yang digelar di GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, Sabtu (23/5/2026). Penghargaan tersebut diraih melalui penampilan tari kreasi bertajuk “Ranying Suling dan Putir Sikan” yang mengangkat legenda masyarakat Dayak Siang dari wilayah Tanah Siang, Kabupaten Murung Raya. Penampilan tim tari Murung Raya berhasil memukau penonton melalui perpaduan gerak tradisional Dayak Siang dengan sentuhan artistik modern yang dikemas secara atraktif dan sarat nilai budaya. Tarian tersebut mengisahkan perjalanan hidup Ranying Suling atau Unde Tungkan Mata, sosok bermata satu yang mengalami penolakan akibat keterbatasan fisiknya. Dalam pengembaraannya, ia menghadapi berbagai rintangan hingga bertemu Putir Sikan, putri dari alam kayangan yang turun menggunakan Polangka Bulo atau piringan emas raksasa. Perjuangan dan ketulusan Ranying Suling membawanya memperoleh anugerah setelah bertapa di Gunung Puruk Kambang hingga berubah menjadi sosok gagah dan akhirnya mempersunting Putir Sikan. Legenda tersebut juga menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat Dayak Siang terhadap Tana Malai, tanah kayangan yang diyakini membawa kesejahteraan dan kemakmuran. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa budaya dan cerita rakyat daerah masih memiliki daya tarik kuat serta mampu ditampilkan secara kreatif dalam ajang seni budaya tingkat provinsi. -red Penulis: Angel Editor: Ivonne Hana

  • Barito Utara Raih Juara Umum FBIM 2026, Tampilkan Budaya Terbaik di Kalteng

    Kontingen Barito Utara menerima penghargaan Penyaji Terbaik I pada Karnaval Budaya FBIM 2026 di Palangka Raya, Sabtu malam (23/5/2026). (Foto. Dok. Wiyandri) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 resmi ditutup Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah di Bundaran Besar Palangka Raya, Sabtu malam (23/5/2026). Malam penutupan berlangsung meriah dengan pengumuman para pemenang lomba budaya serta penyerahan piala bergilir juara umum FBIM 2026. Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, unsur Forkopimda, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden, kepala perangkat daerah, bupati dan wali kota se-Kalteng, serta ribuan masyarakat yang memadati kawasan Bundaran Besar. Dalam pengumuman hasil lomba Karnaval Budaya kategori kabupaten dan kota, Kabupaten Barito Utara berhasil meraih Penyaji Terbaik I setelah menampilkan pertunjukan budaya yang dinilai paling memukau. Sementara itu, Kabupaten Murung Raya meraih Penyaji Terbaik II, Kabupaten Kotawaringin Barat Penyaji Terbaik III, Kota Palangka Raya Penyaji Terbaik IV, Kabupaten Kapuas Penyaji Terbaik V, dan Kabupaten Kotawaringin Timur sebagai Penyaji Terbaik VI. Pada penilaian umum Festival Budaya Isen Mulang 2026, Kabupaten Barito Utara kembali mencatat prestasi dengan keluar sebagai Juara I sekaligus juara umum FBIM 2026. Posisi Juara II diraih Kota Palangka Raya, sedangkan Juara III diraih Kabupaten Murung Raya. Piala bergilir juara umum diserahkan langsung oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama jajaran Forkopimda kepada Bupati Barito Utara Salahudin di panggung utama acara. Suasana penyerahan penghargaan berlangsung penuh semangat dan disambut antusias para tamu undangan maupun masyarakat yang hadir. Penutupan FBIM 2026 menjadi simbol komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam melestarikan budaya daerah sekaligus mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata budaya di Bumi Tambun Bungai. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri

  • FBIM 2026 Resmi Ditutup, Dorong Pelestarian Budaya dan Penguatan Ekonomi Kreatif

    Pj Sekda Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden saat menyampaikan sambutan pada penutupan FBIM 2026 di Bundaran Besar Palangka Raya, Sabtu malam (23/5/2026). (Foto. Dok. Wiyandri) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah resmi menutup rangkaian Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026, Kalteng Expo, dan peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah melalui gelaran Huma Betang Night di Bundaran Besar Palangka Raya, Sabtu malam (23/5/2026). Penutupan kegiatan berlangsung meriah dan dihadiri Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden, para bupati dan wali kota se-Kalimantan Tengah, kepala perangkat daerah, instansi vertikal, tokoh masyarakat, insan pers, serta ribuan warga. Dalam sambutannya, Pj Sekda Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan FBIM 2026 yang berlangsung selama tujuh hari, mulai 17 hingga 23 Mei 2026. Menurutnya, Festival Budaya Isen Mulang tahun ini berhasil menarik perhatian masyarakat, baik dari dalam maupun luar daerah, sekaligus memberikan dampak positif terhadap pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi daerah. “FBIM 2026 menjadi daya tarik masyarakat sekaligus memberikan dampak positif terhadap pelaku seni, pelestarian budaya, dan perputaran ekonomi daerah,” ujarnya. Ia menjelaskan, pelaksanaan FBIM dan Kalteng Expo turut memberikan dampak signifikan terhadap sektor ekonomi, terutama perhotelan, penginapan, UMKM, hingga pedagang kecil di Kota Palangka Raya dan wilayah sekitarnya. Berbagai kegiatan budaya seperti karnaval budaya, pertunjukan seni tradisional, dan atraksi budaya dinilai mampu menggerakkan sektor ekonomi kreatif masyarakat. Para pelaku usaha penyewaan kostum, perajin, sanggar seni, hingga seniman lokal turut merasakan manfaat dari pelaksanaan event tahunan tersebut. “FBIM bukan hanya ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kreatif masyarakat Kalimantan Tengah,” tambah Linae. Suasana penutupan semakin semarak dengan penampilan seni budaya khas Kalimantan Tengah, hiburan rakyat, serta penyerahan penghargaan kepada peserta dan kontingen terbaik dalam rangkaian FBIM 2026. Momentum Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah juga menjadi simbol semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga budaya daerah, memperkuat persatuan, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri

  • Agustiar Sabran Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Dayak pada Penutupan FBIM 2026

    Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, saat menyampaikan sambutan pada penutupan FBIM dan Kalteng Expo 2026 di Palangka Raya, Sabtu malam (23/5/2026). (Foto. Dok. Wiyandri) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah resmi menutup rangkaian Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026, Kalteng Expo, dan peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah dalam acara Huma Betang Night di Palangka Raya, Sabtu malam (23/5/2026). Penutupan kegiatan dilakukan langsung oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Tengah. Dalam sambutannya, Agustiar Sabran menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, seniman, budayawan, panitia, peserta, dan berbagai pihak yang telah mendukung suksesnya pelaksanaan FBIM dan Kalteng Expo 2026. “Kalimantan Tengah adalah Bumi Tambun Bungai dan Bumi Pancasila. Kesuksesan Festival Budaya Isen Mulang ini merupakan keberhasilan seluruh masyarakat Kalimantan Tengah,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya menjaga semangat kebersamaan dan nilai Huma Betang sebagai dasar kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk dan harmonis. Menurut Agustiar, momentum Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah harus menjadi penguat persatuan dan keharmonisan masyarakat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para pemimpin terdahulu yang telah memberikan kontribusi bagi pembangunan Kalimantan Tengah hingga terus berkembang sampai saat ini. “Terima kasih kepada para pendahulu yang telah membangun Kalimantan Tengah. Hal-hal baik yang sudah ada akan terus dilanjutkan dan diperbaiki,” katanya. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Agustiar menilai pelaksanaan FBIM dan Kalteng Expo tetap mampu berjalan meriah dan memberikan dampak positif terhadap masyarakat serta pelaku ekonomi daerah. Menurutnya, efisiensi anggaran bukan berarti mengurangi pelayanan kepada masyarakat, tetapi memastikan penggunaan anggaran lebih tepat sasaran dan bermanfaat. Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga mengajak generasi muda untuk terus menjaga warisan budaya dan nilai luhur masyarakat Dayak, termasuk keberadaan Rumah Betang sebagai simbol persatuan dan identitas masyarakat Kalimantan Tengah. “Rumah Betang adalah identitas masyarakat Kalimantan Tengah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus,” tegasnya. Menutup sambutannya, Agustiar Sabran secara resmi menutup Festival Budaya Isen Mulang 2026 dan Kalteng Expo serta mengucapkan selamat Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri

  • Kebakaran di Gang Merpati Sampit Hanguskan Sejumlah Rumah

    Situasi kebakaran di Jalan H. Imran, Sampit, setelah api berhasil dipadamkan, Sabtu (23/5/2026). (Foto. Dok. Nafiri) KALTENG NETWORK, SAMPIT - Kebakaran terjadi di Gang Merpati, Jalan H. Imran, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, pada Sabtu dini hari (23/5/2026). Peristiwa tersebut menghanguskan sejumlah rumah warga dan sempat menghebohkan masyarakat sekitar. Api berhasil dipadamkan setelah sejumlah armada relawan pemadam kebakaran bersama petugas pemadam milik Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur diterjunkan ke lokasi. Namun, beberapa rumah tidak dapat diselamatkan karena posisi bangunan yang saling berdekatan serta sebagian besar terbuat dari material kayu sehingga api dengan cepat merambat. Di antara rumah yang terbakar terdapat rumah milik seorang guru SDN 1 Ketapang yang berada tidak jauh dari sekolah tempatnya mengajar, serta rumah milik salah satu siswa kelas VI sekolah tersebut. Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Sejumlah warga mengaku api pertama kali terlihat muncul dari salah satu rumah di kawasan Gang Merpati saat sebagian besar warga masih tertidur. Kondisi tersebut membuat api sulit dikendalikan pada awal kejadian sehingga dengan cepat membesar dan menjalar ke bangunan lain. Api akhirnya berhasil dipadamkan pada pagi hari setelah petugas dan relawan pemadam berjibaku melakukan pemadaman di lokasi kejadian. Salah seorang guru SDN 1 Ketapang, Ari, mengaku prihatin atas musibah yang menimpa rekan sesama guru dan salah satu siswa di sekolah tersebut. “Kami turut prihatin atas musibah ini. Rencananya sekolah akan menggalang sumbangan sukarela dari para siswa untuk membantu korban,” ujarnya. -red Penulis: Angel Editor: Nafiri

  • Kenapa Kalimantan Tengah “Gagal” Jadi Ibu Kota Indonesia?

    Monumen Tugu Sukarno di Palangka Raya, kota yang pernah diwacanakan menjadi calon ibu kota Indonesia. (Foto: Google) KALTENGNETWORK- Banyak orang mengira wacana pemindahan ibu kota Indonesia baru muncul beberapa tahun terakhir, ketika pembangunan IKN dimulai di Kalimantan Timur. Padahal, gagasan memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta sudah ada sejak masa awal kemerdekaan. Provinsi Kalimantan Tengah pernah menjadi kandidat terkuat. Bahkan, Presiden pertama Indonesia, Sukarno, disebut memiliki ketertarikan besar terhadap Kalimantan Tengah sebagai “masa depan Indonesia”. Lalu pertanyaannya: kenapa akhirnya Kalimantan Tengah tidak jadi ibu kota? Mimpi Sukarno di Tengah Pulau Kalimantan Pada akhir 1950-an, Sukarno mulai memikirkan masalah klasik Jakarta: terlalu padat, terlalu Jawa-sentris, dan terlalu rentan secara geopolitik. Jakarta berada di pesisir utara Pulau Jawa, dekat laut, rawan banjir, dan kepadatannya terus meningkat. Sukarno ingin ibu kota yang lebih “Indonesia-sentris”, berada di tengah wilayah Nusantara, bukan hanya di Pulau Jawa. Karena itu, pandangannya tertuju ke Kalimantan. Pilihan itu tidak sepenuhnya simbolik. Secara geografis, Pulau Kalimantan berada di tengah kepulauan Indonesia. Wilayahnya luas, relatif stabil dari ancaman gempa besar dan gunung api, serta masih memiliki ruang pembangunan yang sangat besar. Kala itu, Palangka Raya bahkan dirancang dengan visi kota modern masa depan. Kota ini diresmikan langsung oleh Sukarno pada 1957. Jalan-jalannya dibuat lebar, tata kotanya dirancang luas, dan narasi yang berkembang saat itu menyebut Palangka Raya diproyeksikan sebagai calon ibu kota negara. Sukarno saat bertemu dengan Tjilik Riwut, tokoh pahlawan pembangunan di Kalimantan Tengah. (Foto: domain publik) Bagi Sukarno, membangun ibu kota di tengah hutan Kalimantan bukan sekadar proyek fisik. Itu adalah simbol Indonesia baru: negara besar yang tidak terus bertumpu pada Jawa. Tapi Indonesia Saat Itu Belum Siap Masalah utamanya sederhana: Indonesia masih terlalu muda dan terlalu miskin. Pada era 1950–1960-an, kondisi ekonomi Indonesia belum stabil. Negara baru saja melewati perang kemerdekaan, konflik politik dalam negeri, pemberontakan daerah, hingga ketegangan ideologi global era Perang Dingin. Membangun ibu kota baru membutuhkan biaya luar biasa besar. Bukan hanya gedung pemerintahan, tetapi juga jalan, listrik, air, pelabuhan, bandara, rumah penduduk, hingga jaringan logistik. Padahal pembangunan dasar pun di banyak daerah Indonesia saat itu masih tertinggal. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, proyek ibu kota baru akhirnya lebih banyak berhenti sebagai visi besar daripada realisasi konkret. Geopolitik dan Pergolakan Politik Mengubah Prioritas Memasuki pertengahan 1960-an, Indonesia mengalami salah satu periode paling turbulen dalam sejarahnya. Ketegangan politik memuncak, ekonomi memburuk, dan situasi nasional berubah drastis setelah peristiwa 1965. Di tengah kekacauan itu, ide pemindahan ibu kota praktis kehilangan prioritas. Pemerintahan baru di bawah Suharto kemudian lebih fokus pada stabilitas politik dan pembangunan ekonomi terpusat. Jakarta justru berkembang semakin dominan sebagai pusat pemerintahan, bisnis, media, dan kekuasaan. Alih-alih memindahkan ibu kota, negara malah semakin memusatkan segalanya ke Jakarta. Akibatnya, mimpi besar Sukarno mengenai Palangka Raya perlahan memudar. Infrastruktur Jadi Kendala Besar Selain faktor politik dan ekonomi, ada satu hal penting lain: infrastruktur Kalimantan pada masa itu masih sangat terbatas. Transportasi antardaerah masih sulit, konektivitas minim, dan akses logistik mahal. Untuk menjadikan Kalimantan Tengah sebagai pusat pemerintahan nasional, negara harus membangun hampir semuanya dari nol. Bahkan hingga hari ini, membangun infrastruktur di Kalimantan tetap jauh lebih menantang dibanding Pulau Jawa karena faktor geografis, hutan, sungai besar, dan kepadatan penduduk yang rendah. Artinya, tantangan yang dihadapi Indonesia pada era Sukarno sebenarnya jauh lebih berat dibanding era sekarang. Ironisnya, Gagasannya Tidak Pernah Benar-Benar Mati Meski Kalimantan Tengah akhirnya tidak menjadi ibu kota, gagasan dasarnya ternyata tetap hidup selama puluhan tahun: Indonesia membutuhkan pusat pemerintahan baru di luar Jawa. Dan puluhan tahun kemudian, ide itu akhirnya benar-benar diwujudkan melalui pembangunan IKN di Kalimantan Timur. Secara menarik, keputusan itu menunjukkan bahwa gagasan Sukarno mungkin bukan terlalu ambisius, melainkan terlalu maju untuk zamannya. Indonesia tahun 1960-an belum memiliki kapasitas ekonomi, teknologi, dan stabilitas politik untuk memindahkan ibu kota. Namun Indonesia abad ke-21 mulai memiliki kemampuan itu. Jadi, Apakah Kalimantan Tengah Benar-Benar “Gagal”? Monumen Talawang di Kota Palangka Raya saat ini. (Foto: dokumentasi pribadi) Mungkin tidak sepenuhnya. Karena pada akhirnya, Kalimantan Tengah tetap tercatat dalam sejarah sebagai wilayah pertama yang secara serius dibayangkan menjadi pusat Indonesia masa depan. Ia mungkin tidak menjadi ibu kota negara. Tetapi ide besarnya ikut membentuk arah cara Indonesia memandang dirinya sendiri: bahwa Indonesia tidak harus selalu berpusat di Jawa. Dan mungkin, itu adalah warisan terpentingnya. -red Penulis : Ivonne Hana Editor : Emuna Asie

  • Kenapa Marketing Asbun Aldi Taher Disukai Gen Z?

    Foto: Aldi Taher, pencetus cara marketing terbaru yang viral di kalangan Gen Z (sumber foto: Google) Aldis taher burger cempaka putih rotinya lembut daging nya juicy lucy mahalini rizky febian jkt48 bisa pesen online... KALTENGNETWORK- Barangkali Pembaca Cerdas yang chronically online sudah tidak asing dengan jargon tesebut. Belakangan membludak dan viral, marketing Aldi's Burger milik Aldi Taher ini dianggap jenius. Namun, kenapa strategi marketing yang terkesan "asbun" alias asal bunyi ini ini bisa berhasil? Jika model promosi seperti ini dilakukan pada zaman generasi boomer, kemungkinan besar responsnya akan berbeda. Marketing pada era sebelumnya dibangun di atas keteraturan: slogan harus jelas, elegan, dan menjelaskan produk dengan rapi. Iklan dianggap berhasil ketika terlihat profesional dan meyakinkan. Namun internet modern bekerja dengan logika yang berbeda. Di era media sosial, perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal. Setiap hari generasi Z dibombardir ribuan konten: video pendek, iklan, reels, thread, meme, podcast, hingga promosi produk yang semuanya berlomba terlihat sempurna. Akibatnya, kesempurnaan justru menjadi sesuatu yang membosankan. Generasi Z tumbuh sebagai digital native, yakni kelompok yang sejak kecil hidup berdampingan dengan internet. Mereka sangat terbiasa melihat konten yang dikurasi, dipoles, dan dioptimalkan algoritma. Lama-kelamaan, semuanya terasa mirip. Di titik inilah muncul fenomena yang menarik: semakin sempurna sebuah konten, semakin terasa tidak manusiawi. Karena itu, generasi Z mulai merindukan sesuatu yang mentah, spontan, dan genuine. Mereka menyukai hal-hal yang terasa “real”, meski berantakan. Mereka lebih mudah tertarik pada sesuatu yang membuat mereka berhenti scrolling dan berkata, “Hah? apaan ini?” Dan Aldi Taher memahami bahasa internet itu. Tagline marketing-nya bukanlah rentetan kalimat yang terasa dibuat oleh tim branding mahal atau formula AI yang terlalu aman. Kalimatnya random, loncat ke mana-mana, penuh nama artis, tidak memiliki struktur jelas, bahkan terasa seperti hasil voice note orang yang sedang terlalu semangat. Namun justru karena itulah ia memorable. Di tengah arus konten digital yang sebenarnya sangat repetitif, absurditas menjadi alat pembeda. Otak manusia secara alami lebih mudah menangkap sesuatu yang tidak prediktif dibanding sesuatu yang terlalu familiar. Ketika semua brand berlomba tampil estetik dan cool, Aldi Taher datang dengan energi “chaotic” yang terasa sangat manusiawi. Ia tidak mencoba terlihat sempurna. Ia mencoba terlihat hidup. Fenomena ini juga berkaitan dengan budaya internet modern yang sangat dekat dengan humor absurd dan meme culture. Bagi generasi Z, humor tidak selalu harus masuk akal. Bahkan sering kali semakin tidak nyambung sebuah lelucon, semakin lucu hasilnya. Internet hari ini dipenuhi humor anti-klimaks, editan acak, audio pecah, hingga caption tanpa konteks. Kekacauan kecil justru menjadi bahasa komunikasi baru. Karena itu, slogan Aldi Taher terasa seperti “produk asli internet”, bukan sekadar iklan. Selain itu, keberhasilan Aldi Taher bukan hanya soal jargon viralnya. Ia juga berhasil mem-branding dirinya sebagai figur yang “reachable”. Berbeda dengan citra selebritas lama yang cenderung menjaga jarak dan aura eksklusif, Aldi Taher tampil seolah tidak memiliki sekat dengan audiensnya. Ia rajin membalas komentar, aktif membuat video spontan, dan sering membagikan interaksi personal dengan pengikutnya. Kehadirannya di media sosial terasa seperti teman sendiri yang kebetulan terkenal, bukan figur publik yang jauh dan sulit disentuh. Di era kesepian digital seperti sekarang, hal itu sangat kuat nilainya. Generasi Z hidup di tengah konektivitas tanpa henti, tetapi ironisnya banyak dari mereka tetap merasa kesepian. Karena itu, mereka tidak hanya membeli produk namun juga rasa terkoneksi. Aldi Taher menawarkan itu semua dalam bentuk paling mentah dan paling internet. Marketing modern akhirnya bukan lagi sekadar soal menjual produk terbaik. Terkadang yang paling penting adalah siapa yang paling berhasil mencuri perhatian, menciptakan percakapan, dan terasa autentik di mata audiens. Dan Aldi Taher berhasil melakukannya dengan cara yang mungkin bahkan tidak bisa direplikasi oleh banyak brand besar sekalipun. Jadi, gimana? Sudah beli “Aldis Taher burger cempaka putih rotinya lembut dagingnya juicy Lucy Mahalini Rizky Febian JKT48 bisa pesen online” belum? -red Penulis : Ivonne Hana Editor : Emuna Asie

  • Refleksi HUT ke-69 Kalteng, Teras Narang Soroti Pentingnya Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah

    Agustin Teras Narang menyampaikan refleksi Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya. (Foto. Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah menjadi momentum refleksi terhadap perjalanan pembangunan daerah di tengah tantangan ekonomi dan kebijakan nasional. Mantan Gubernur Kalimantan Tengah dua periode, Agustin Teras Narang, menilai sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci utama dalam mendorong kesejahteraan masyarakat. Menurut Teras Narang, pembangunan daerah tidak akan berjalan optimal tanpa hubungan yang harmonis antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ia menegaskan masyarakat memandang pemerintah sebagai satu kesatuan yang diharapkan mampu menghadirkan pelayanan dan pembangunan secara nyata. “Rakyat tidak melihat pembagian kewenangan, tetapi ingin merasakan hasil pembangunan dan pelayanan yang baik,” ujarnya dalam refleksi Hari Jadi ke-69 Kalimantan Tengah. Anggota DPD RI asal Kalimantan Tengah itu mengatakan semangat kolaborasi perlu terus diperkuat, terutama di tengah tekanan fiskal daerah dan dampak kondisi ekonomi global yang turut memengaruhi pelaksanaan pembangunan. Ia juga mengenang masa kepemimpinannya ketika hubungan komunikasi dengan pemerintah pusat berjalan baik. Menurutnya, sinergi dengan pemerintah pusat pada masa Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono memberikan dukungan besar terhadap percepatan pembangunan di Kalimantan Tengah, khususnya pada sektor pendidikan, kesehatan, dan konektivitas wilayah. Teras menilai pembangunan daerah tidak bisa hanya bergantung pada kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dukungan anggaran dan kebijakan dari pemerintah pusat dinilai tetap menjadi faktor penting agar pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Dalam refleksinya, ia juga menyoroti pentingnya memberikan ruang lebih luas bagi daerah untuk memperjuangkan kebutuhan masyarakat di tengah kebijakan efisiensi dan pengetatan anggaran yang saat ini diterapkan pemerintah. Menurutnya, filosofi Huma Betang yang menjadi nilai budaya masyarakat Dayak harus diterapkan dalam tata kelola pemerintahan melalui semangat gotong royong, kebersamaan, dan saling mendukung antar pemangku kepentingan. Ia berharap seluruh kepala daerah di Kalimantan Tengah terus memperkuat komunikasi dan sinergi pembangunan dengan pemerintah pusat agar program prioritas daerah dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Selain itu, Teras Narang juga berharap Presiden RI Prabowo Subianto beserta jajaran pemerintah pusat dapat memahami kebutuhan riil masyarakat di daerah, termasuk Kalimantan Tengah, sehingga dukungan pembangunan dan kebijakan fiskal dapat diberikan secara tepat sasaran. -red Penulis: Angel Editor: Adi

  • Lapas Palangka Raya Panen Jagung dan Pepaya, Kembangkan Budidaya Lele untuk Ketahanan Pangan

    KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palangka Raya terus memperkuat program pembinaan kemandirian warga binaan melalui pengembangan sektor ketahanan pangan. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan panen jagung dan pepaya serta penebaran benih lele di kolam bioflok yang dilaksanakan di area pembinaan Lapas, Jumat (22/5/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Tengah, I Putu Murdiana, bersama Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan sebagai bentuk dukungan terhadap program pembinaan produktif di lingkungan pemasyarakatan. Dalam kegiatan itu, petugas dan warga binaan bersama-sama memanen jagung dan pepaya yang telah dibudidayakan selama beberapa bulan terakhir. Hasil panen dinilai cukup baik dan menunjukkan keberhasilan program pembinaan berbasis pertanian yang dijalankan Lapas Palangka Raya. Selain pengembangan sektor pertanian, Lapas juga menjalankan budidaya perikanan dengan menebar benih lele di kolam bioflok. Program tersebut tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana pelatihan keterampilan bagi warga binaan agar memiliki kemampuan produktif dan bernilai ekonomis. Kepala Kanwil Ditjenpas Kalimantan Tengah, I Putu Murdiana, mengapresiasi konsistensi Lapas Palangka Raya dalam menghadirkan program pembinaan yang memberikan manfaat positif bagi warga binaan. “Program seperti ini sangat baik karena selain mendukung ketahanan pangan, juga memberikan keterampilan dan pengalaman kerja bagi warga binaan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Palangka Raya, Hisam Wibowo, menegaskan pihaknya akan terus mengembangkan program pembinaan kemandirian melalui sektor pertanian, perkebunan, hingga budidaya perikanan. Menurutnya, program tersebut diharapkan mampu membentuk warga binaan yang lebih mandiri, produktif, dan siap berkontribusi positif di tengah masyarakat setelah menjalani masa pidana. Kegiatan berlangsung lancar dan penuh semangat kebersamaan antara petugas dan warga binaan, sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri

  • Pemko Palangka Raya Perkuat Ketahanan Pangan melalui Panen Padi dan Sorgum

    Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, saat mengikuti kegiatan panen padi dan sorgum di lahan ketahanan pangan milik Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palangka Raya, Rabu (20/5/2026). (Foto. Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Pemerintah Kota Palangka Raya terus mendorong penguatan ketahanan pangan lokal melalui pengembangan sektor pertanian berbasis inovasi. Upaya tersebut ditunjukkan melalui kegiatan panen padi dan sorgum di lahan ketahanan pangan milik Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palangka Raya, Rabu (20/5/2026). Kegiatan itu juga dirangkaikan dengan penanaman cabai bersama sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong menjadi area produktif. Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, mengapresiasi DPKP dan kelompok tani yang berhasil mengembangkan berbagai komoditas pertanian di wilayah Kota Palangka Raya. Menurutnya, keberhasilan budidaya padi, sorgum, dan cabai membuktikan bahwa lahan di Palangka Raya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif apabila dikelola secara baik. “Melalui inovasi ini kita melihat bahwa lahan di sekitar lingkungan kantor maupun kawasan lainnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian,” ujarnya. Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berfokus pada kegiatan panen, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan dan penelitian pertanian bersama Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Tengah. Pendampingan yang dilakukan bertujuan mencari metode pengelolaan lahan yang lebih efektif agar hasil produksi pertanian dapat meningkat secara optimal. Selain sebagai lokasi produksi pangan, lahan ketahanan pangan tersebut juga direncanakan menjadi area percontohan atau demplot bagi masyarakat. Pemerintah berharap masyarakat dapat meniru pola pemanfaatan lahan di lingkungan rumah maupun tempat kerja masing-masing. “Harapannya masyarakat bisa melihat langsung dan menerapkannya di lahannya sendiri. Selama ada kemauan, lahan di Palangka Raya dapat menjadi produktif,” katanya. Dalam kegiatan tersebut, pemerintah kota juga membagikan bibit cabai kepada peserta untuk ditanam secara mandiri. Langkah itu dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menjadi salah satu upaya pengendalian inflasi daerah. “Minimal kebutuhan cabai sehari-hari dapat dipenuhi sendiri dari hasil tanam di rumah ataupun di lingkungan kantor,” pungkasnya. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri

  • Musprov XII INKINDO Kalteng Dorong Transformasi Jasa Konsultansi yang Kompetitif dan Berkelanjutan

    Suasana Musyawarah Provinsi (Musprov) XII INKINDO Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Kamis (21/5/2026), yang membahas penguatan sinergi jasa konsultansi dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berdaya saing. (Foto: Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Kalimantan Tengah menggelar Musyawarah Provinsi (Musprov) XII Tahun 2026 di Hotel Best Western Palangka, Palangka Raya, Kamis (21/5/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “Transformasi Jasa Konsultansi untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Berdaya Saing” sebagai bentuk komitmen memperkuat peran jasa konsultansi dalam mendukung pembangunan daerah yang berkualitas. Musprov XII menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat sinergi antara INKINDO dan pemerintah daerah dalam menghadapi tantangan pembangunan di era modern. Kegiatan itu dihadiri jajaran pemerintah daerah, pelaku jasa konsultansi, serta anggota INKINDO dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Dalam sambutan Gubernur Kalimantan Tengah yang dibacakan Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kalteng, Darliansjah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi INKINDO dalam mendukung pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan yang merata hingga wilayah pedalaman membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk organisasi profesi di bidang jasa konsultansi. “Melalui Musprov ini, kami berharap INKINDO Kalimantan Tengah semakin solid dan mampu memperkuat sinergi dalam mendukung pembangunan daerah,” ujar Darliansjah. Ia menegaskan, upaya mewujudkan Kalimantan Tengah yang maju, sejahtera, dan bermartabat menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Darliansjah juga menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang matang, terukur, dan berkelanjutan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan di masa depan. Karena itu, INKINDO dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong profesionalisme, inovasi, dan integritas tenaga konsultan di Kalimantan Tengah. Ia berharap Musprov XII dapat menghasilkan kepemimpinan dan program kerja yang semakin kuat untuk mendukung kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, perwakilan Panitia Pelaksana Musprov XII INKINDO Kalteng, Aprias Surya, menegaskan komitmen organisasi dalam mendukung pembangunan daerah melalui peningkatan kualitas jasa konsultansi dan penguatan tenaga profesional lokal. Menurutnya, kepengurusan baru yang akan terbentuk diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata, termasuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dalam setiap proses pembangunan. Aprias menjelaskan, sejak berdiri pada 1983, INKINDO Kalteng telah terlibat aktif dalam berbagai sektor pembangunan, mulai dari perencanaan hingga pengawasan proyek strategis di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Ia berharap Musprov XII menjadi pijakan untuk memperkuat kontribusi organisasi secara berkelanjutan. Dalam kegiatan tersebut, INKINDO Kalteng juga menyoroti sejumlah tantangan di sektor jasa konsultansi, seperti perubahan regulasi yang cepat, penyesuaian anggaran pemerintah, hingga kondisi geografis Kalimantan Tengah yang memengaruhi distribusi barang dan jasa. Luas wilayah Kalimantan Tengah dan tingginya biaya logistik dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan proyek pembangunan di lapangan. Meski demikian, INKINDO Kalteng menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan peran tenaga profesional lokal agar pembangunan daerah tetap berjalan efektif, berkualitas, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri

bottom of page