Dec 3, 20251 min read



KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan terus mendorong inovasi dalam bidang pertanian guna memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Salah satu langkah yang dijalankan adalah pengembangan budidaya bawang merah menggunakan teknologi True Shallot Seed (TSS) di lahan pekarangan. Teknologi ini memanfaatkan benih biji yang dinilai lebih efisien, sehat, serta memiliki produktivitas tinggi dibandingkan dengan penggunaan bibit umbi.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui lahan percontohan di UPT Balai Pengembangan Produksi Benih Tanaman Pangan Hortikultura (BPPB-TPH) yang berlokasi di Jl. Tjilik Riwut Km 3, Palangka Raya, pada Rabu (29/10/2025). Program tersebut bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan pekarangan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penerapan inovasi pertanian berkelanjutan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Rendy Lesmana, menegaskan pentingnya pengelolaan lahan pekarangan sebagai bagian dari strategi peningkatan produktivitas hortikultura sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.
“Kami ingin memastikan setiap lahan yang ada dapat memberikan manfaat optimal, tidak hanya sebagai ruang hijau, tetapi juga sumber produksi pangan bernilai ekonomi. Penerapan teknologi sederhana dan ramah lingkungan, tentunya menjadi acuan dalam setiap tahap budidaya. Salah satunya teknologi TSS bawang merah. Penerapan TSS ini dapat meningkatkan produktivitas bawang merah lebih tinggi dibandingkan benih umbi, sekaligus efisensi kebutuhan benih dengan harga benih lebih terjangkau,” ungkap Rendy Lesmana di lokasi lahan pekarangan UPT. BPPB-TPH.
Sementara itu, Kepala UPT BPPB-TPH, Isnawati, menjelaskan bahwa kegiatan budidaya bawang merah di kebun pekarangan tersebut merupakan bentuk edukasi bagi masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa dengan perawatan yang tepat, bawang merah dapat tumbuh subur bahkan di lahan terbatas seperti pekarangan kantor,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini melibatkan Pengawas Benih Tanaman, tenaga teknis, serta peserta magang dari mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya (UPR), siswa SMK Katingan Kuala, dan SMK Budi Mulya, sebagai sarana pembelajaran langsung mengenai teknik budidaya hortikultura.
Kemudian, Kepala Seksi Perbanyakan Benih/Bibit Hortikultura, Goalter Zoko, menuturkan bahwa penggunaan benih asal biji sudah mulai diperkenalkan oleh Kementerian Pertanian, namun perubahan kebiasaan petani dari benih umbi ke biji membutuhkan proses yang panjang.
“Melalui lahan percontohan yang dikembangkan di lahan pekarangan, kelompok masyarakat termasuk mahasiswa dan siswa dapat melihat secara langsung penerapan teknologi semai benih biji bawang merah dapat tumbuh dengan baik di daerah kota Palangka Raya,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa benih biji TSS memiliki sejumlah keunggulan, seperti biaya pengangkutan yang lebih murah karena berbentuk biji, daya simpan hingga dua tahun asalkan tidak terkena sinar matahari langsung, serta ketahanan terhadap serangan penyakit.
“Pemakaian benih biji tidak membawa virus dan jamur sehingga pemakaian pupuk menjadi lebih efisien,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, pengembangan benih/bibit bawang merah ini menggunakan varietas Sanren F1 dari Panah Merah, dengan proses persemaian benih biji selama enam minggu sebelum dipindah tanam.
Melalui kegiatan percontohan ini, Pemprov Kalteng berharap masyarakat semakin termotivasi untuk memanfaatkan lahan pekarangannya secara produktif, sekaligus mendukung kemandirian pangan serta penerapan inovasi pertanian berkelanjutan di tingkat rumah tangga. -red
Foto: MMC.Kalteng








Comments