OMC Kalteng Semai 1 Ton Garam, Upaya Tekan Karhutla di Kotim
- Fransisca Fethy Angelina
- 11 minutes ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama BMKG untuk memicu turunnya hujan di tengah musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Wakil Koordinator Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan OMC dilakukan dengan penyemaian garam menggunakan pesawat udara pada awan yang dinilai memiliki potensi menghasilkan hujan.
“Untuk Kotim, sudah dilakukan juga OMC dari Kalimantan Tengah di Palangka Raya. Beberapa hari lalu sudah ada penyemaian garam kurang lebih 1.000 kilogram atau satu ton,” kata Rihel, Jumat (15/8/2026).
Menurutnya, dampak OMC belum dirasakan secara langsung di Kota Sampit. Namun, hujan ringan sempat dilaporkan turun di wilayah Cempaga Hulu.
Rihel menjelaskan, keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi awan serta arah dan kecepatan angin. Karena itu, penyemaian garam tidak selalu menghasilkan hujan di wilayah yang menjadi sasaran.
“Tidak menutup kemungkinan ada kegagalan karena mengacu dengan kecepatan dan arah angin. Potensi hujannya ada, tetapi belum tentu hujan turun di lokasi yang kita harapkan,” jelasnya.
Pelaksanaan OMC oleh Pemprov Kalteng direncanakan berlangsung hingga 17 Agustus 2026. Dalam setiap penerbangan, pesawat rata-rata membawa sekitar satu ton garam untuk disemai pada awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Untuk wilayah Kotim, penyemaian juga sempat dilakukan di kawasan Ujung Pandaran. Kegiatan tersebut dilakukan bersamaan dengan patroli udara untuk memantau titik kebakaran hutan dan lahan sekaligus mencari keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
“Kalau ditemukan potensi awan hujan, dilaporkan. Kalau patrolinya dilakukan sore, maka paginya dilakukan modifikasi cuaca untuk penyemaian garam,” ujarnya.
Selain sebagai upaya membantu penanganan karhutla, OMC diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan yang mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah sumber air dan parit di sekitar Sampit juga dilaporkan mulai mengalami penyusutan.
Rihel mengatakan, hingga saat ini belum ada informasi terbaru mengenai perubahan waktu puncak musim kemarau. Berdasarkan kondisi sementara, puncak kemarau diperkirakan berlangsung hingga September.
“Belum ada informasi bahwa musim kemarau maju atau mundur. Sementara ini sampai September adalah puncaknya. Nanti sekitar minggu pertama atau kedua September akan dirilis kembali apakah maju atau mundur,” pungkasnya.
Pelaksanaan OMC menjadi salah satu langkah yang dilakukan pemerintah di tengah meningkatnya ancaman karhutla. Upaya tersebut tetap berjalan bersamaan dengan pemantauan dan penanganan kebakaran di lapangan. -red
Penulis: Angel
Editor: Ivonne Hana





















Comments