top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Mahasiswa UPR Kembangkan Bedak Dingin Berbahan Alam Khas Kalteng

21 minutes ago
2 min read
Mahasiswa Universitas Palangka Raya mengembangkan inovasi bedak dingin berbahan arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat untuk membantu mengatasi kulit berminyak. (Foto: Istimewa)
Mahasiswa Universitas Palangka Raya mengembangkan inovasi bedak dingin berbahan arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat untuk membantu mengatasi kulit berminyak. (Foto: Istimewa)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Empat mahasiswa lintas jurusan Universitas Palangka Raya (UPR) mengembangkan inovasi kosmetik tradisional berbasis bahan alam khas Kalimantan Tengah. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE), mereka mengembangkan bedak dingin berbahan arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat untuk membantu mengatasi masalah kulit berminyak.


Inovasi tersebut berangkat dari kondisi iklim tropis Indonesia yang membuat produksi sebum atau minyak pada wajah cenderung lebih tinggi. Kulit berminyak juga kerap berkaitan dengan munculnya jerawat dan komedo sehingga diperlukan pendekatan perawatan yang sesuai.


Tim UPR kemudian mengangkat kembali bedak dingin sebagai salah satu kosmetik tradisional berbahan dasar beras. Produk tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan bahan alam lokal dan pendekatan ilmiah agar memiliki fungsi yang lebih spesifik.


Penelitian ini menggunakan kombinasi dua bahan dengan mekanisme kerja berbeda. Arang aktif kayu tumih atau Combretocarpus rotundatus, tumbuhan yang banyak ditemukan di ekosistem lahan gambut Kalimantan Tengah, dimanfaatkan sebagai adsorben untuk membantu menyerap minyak dan kotoran pada permukaan kulit.


Sementara itu, ekstrak daun putat atau Planchonia valida mengandung senyawa seperti flavonoid dan tanin serta memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri. Kandungan tersebut dikaji untuk mendukung perawatan kulit dan membantu mencegah masalah yang berkaitan dengan bakteri.


Tim menyebut kombinasi kedua bahan tersebut menjadi salah satu aspek yang membedakan penelitian mereka. Efektivitasnya juga diukur secara kuantitatif menggunakan skin analyzer untuk melihat perubahan kadar sebum pada kulit.


Penelitian tersebut digagas Anisa Nugraha Heni dari Program Studi Fisika sebagai ketua tim. Ia bekerja bersama Ade Theresia Hutauruk dari Fisika, Muhammad Ramadhani dari Farmasi dan Rumita dari Kimia, dengan dosen pembimbing Made Dirgantara, S.Si., M.Si.


“Kolaborasi lintas disiplin ini menunjukkan bagaimana riset sains dasar, fisika, farmasi, dan kimia dapat bersinergi menjawab persoalan nyata di masyarakat,” kata Anisa, Sabtu (12/9/2026).


Selain menjalankan penelitian, tim tersebut juga memperkenalkan hasil kajiannya melalui sejumlah forum ilmiah, seperti SEMIRATA, Seminar Mahasiswa dan BASISTORA.


Menurut Anisa, diseminasi tersebut dilakukan untuk memperluas pemanfaatan hasil penelitian sekaligus membangun jejaring akademik di tingkat regional maupun nasional.


“Ini sebagai upaya diseminasi dan memperluas jejaring akademik di tingkat regional maupun nasional,” pungkasnya. -red


Penulis: Angel

Editor: Ivonne Hana

Comments


bottom of page