Karhutla di Desa Eka Bahurui Belum Padam, BPBD Kotim Ubah Strategi Penanganan
- Fransisca Fethy Angelina
- Jul 21
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih menjadi perhatian serius. Memasuki hari ke-18 sejak pertama kali terpantau pada 3 Juli 2026, api masih aktif membakar lapisan gambut dan terus menimbulkan kepulan asap.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengatakan hingga Selasa (21/7/2026), upaya pemadaman masih terus dilakukan, termasuk dengan mengerahkan helikopter water bombing untuk menekan kobaran api dari udara.
"Kalau dihitung sejak 3 Juli sampai hari ini, sudah sekitar 18 hari. Api masih aktif dan menjadi perhatian kami," ujarnya.
Menurut Multazam, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan terbesar dalam proses pemadaman. Meski permukaan telah beberapa kali disiram, bara api masih bertahan di bawah tanah sehingga kebakaran terus merambat menuju belakang Desa Eka Bahurui hingga ke arah Jalan Poros dan kawasan yang berbatasan dengan Desa Pembuang Makmur.
Hasil pemantauan menggunakan pesawat nirawak (drone) pada Selasa pagi menunjukkan kepulan asap masih muncul dari sejumlah titik. Kondisi tersebut mengindikasikan api di lapisan gambut belum sepenuhnya padam.
"Tadi pagi saya melakukan ground check menggunakan drone. Dari udara terlihat kepulan asap cukup tebal. Itu menandakan api masih aktif di bawah tanah dan harus segera dipotong agar tidak meluas," katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD mengubah strategi penanganan. Fokus utama saat ini bukan lagi memadamkan seluruh area yang terbakar, melainkan memutus jalur perambatan api agar kebakaran tidak meluas ke kawasan hutan maupun lahan milik masyarakat.
Strategi serupa sebelumnya diterapkan saat menangani karhutla di Kelurahan Baamang Hulu dan kini kembali digunakan di kawasan Kuda Marlih yang dikenal sebagai salah satu titik rawan kebakaran.
Selain melakukan pemadaman, BPBD bersama pemerintah desa dan kelompok masyarakat peduli api juga memperkuat langkah mitigasi dengan mengajak warga menyiapkan embung portabel berbahan terpal di kebun masing-masing. Air dari parit atau saluran diharapkan dapat ditampung sebagai cadangan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
"Kami berharap masyarakat bisa menyiapkan sumber air sederhana di kebunnya. Dengan begitu, penanganan awal bisa dilakukan lebih cepat sebelum api membesar," jelas Multazam.
Ia mengungkapkan, kendala terbesar yang dihadapi petugas di lapangan adalah minimnya sumber air. Tinggi muka air di parit sekitar lokasi hanya berkisar 35 hingga 40 sentimeter dan tidak mengalir, sehingga pemadaman menggunakan pompa portabel menjadi kurang optimal.
Untuk menjangkau titik api yang berada jauh di tengah kawasan berhutan, petugas harus membentangkan sekitar 26 gulung selang atau hampir 750 meter. Meski demikian, operasi water bombing dinilai masih efektif membantu menekan intensitas kebakaran. Penggunaan helikopter dilakukan secara bergantian karena juga mendukung penanganan karhutla di sejumlah daerah lain di Kalimantan Tengah, seperti Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas.
Berdasarkan data BPBD Kotim, luas lahan yang terbakar di Desa Eka Bahurui dan sekitarnya diperkirakan telah mencapai lebih dari delapan hektare. Hingga kini, tim gabungan masih terus berupaya mencegah api merambat ke kebun warga maupun kawasan hutan yang lebih luas. -red
Penulis: Angel
Editor: Ivonne Hana





















Comments