top of page

Fenomena Alter Ego, Kita Jadi Orang Berbeda di Internet


Apakah kita memiliki "alter ego" di sosmed? (Ilustrasi: AI generated)
Apakah kita memiliki "alter ego" di sosmed? (Ilustrasi: AI generated)

KALTENGNETWORK- Pernah melihat seseorang yang pendiam saat bertemu langsung, tetapi sangat aktif dan percaya diri di media sosial?

Atau mungkin kamu sendiri pernah mengalaminya. Di dunia nyata, kamu cenderung pemalu dan jarang berbicara. Namun ketika membuka Instagram, X, TikTok, atau platform lainnya, kamu bisa menjadi sosok yang jauh lebih ekspresif.


Fenomena ini semakin umum di era digital. Bahkan tidak sedikit orang yang merasa dirinya memiliki dua versi: satu di dunia nyata, dan satu lagi di internet.

Lalu, apakah kita sedang berpura-pura? Atau memang setiap orang memiliki "alter ego" di dunia maya?


Secara sederhana, alter ego dapat diartikan sebagai versi lain dari diri seseorang yang memiliki karakteristik berbeda dari identitas utamanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, alter ego tidak selalu berarti kepribadian ganda seperti yang sering digambarkan dalam film. Sebaliknya, ia bisa berupa sisi diri yang jarang muncul dalam kondisi tertentu.


Misalnya:

  • Mahasiswa yang pendiam di kampus tetapi sangat vokal di media sosial.

  • Pegawai kantoran yang terlihat formal saat bekerja tetapi dikenal humoris di akun anonimnya.

  • Seseorang yang jarang berbagi cerita secara langsung tetapi sangat terbuka melalui tulisan di internet.


Salah satu penjelasan yang sering digunakan dalam psikologi adalah fenomena yang dikenal sebagai online disinhibition effect.

Sederhananya, internet mengurangi beberapa hambatan sosial yang biasanya ada dalam interaksi tatap muka.

Ketika berbicara langsung dengan seseorang, kita harus menghadapi berbagai faktor seperti ekpresi lawan bicara, penilaian langsung, rasa malu dan canggung, serta takut ditolak.


Di internet, sebagian hambatan tersebut berkurang. Akibatnya, banyak orang merasa lebih bebas untuk mengungkapkan pikiran, opini, bahkan emosi mereka.


Persona kita di internet tidak selalu palsu.

Banyak orang menganggap persona internet sebagai topeng atau kepura-puraan. Namun beberapa psikolog berpendapat bahwa identitas online sering kali bukan identitas palsu, melainkan bagian lain dari diri yang selama ini tidak memiliki ruang untuk muncul.


Bayangkan seseorang yang memiliki banyak ide dan opini, tetapi sulit menyampaikannya dalam percakapan langsung karena gugup. Ketika menulis di internet, ia memiliki waktu untuk berpikir dan menyusun kata-kata. Akibatnya, sisi dirinya yang selama ini tersembunyi menjadi lebih terlihat.


Dengan kata lain, internet tidak selalu menciptakan kepribadian baru. Terkadang internet hanya memperbesar bagian tertentu dari kepribadian yang sudah ada.


Fenomena "second account" atau akun kedua juga menarik untuk dibahas.

Banyak pengguna media sosial memiliki akun utama yang rapi dan terkurasi, dan akun kedua yang lebih santai dan personal.

Hal ini menunjukkan bahwa identitas manusia sebenarnya tidak tunggal. Kita semua menampilkan versi diri yang berbeda tergantung pada situasi.

Sama seperti seseorang yang berbicara berbeda saat berada di kantor, bersama keluarga, atau ketika berkumpul dengan sahabat, identitas digital juga dapat berubah sesuai konteks.


Meskipun tidak selalu negatif, perbedaan yang terlalu jauh antara kehidupan online dan kehidupan nyata juga dapat menimbulkan masalah.

Beberapa orang mulai merasa tertekan untuk mempertahankan citra tertentu di media sosial.

Di akun mereka, seolah mereka terlihat selalu bahagia, produktif, sukses dan percaya diri. Padahal kenyataannya tidak demikian.


Ketika jarak antara persona online dan kehidupan nyata semakin besar, seseorang bisa mengalami kelelahan emosional karena terus berusaha mempertahankan identitas yang sebenarnya tidak mencerminkan dirinya secara utuh.


Lalu, manakah sebenarnya diri kita yang asli?

Alih-alih memiliki satu diri yang "asli" dan satu yang "palsu", manusia sebenarnya memiliki banyak sisi yang muncul dalam konteks berbeda.

Kita bisa menjadi profesional di tempat kerja, santai bersama teman, lembut di hadapan keluarga, dan ekspresif di internet, semuanya tetap merupakan bagian dari diri kita.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah identitas yang kita tampilkan masih selaras dengan nilai dan kehidupan yang kita jalani.


Internet telah memberi manusia ruang baru untuk berekspresi. Di sana, kita bisa menemukan suara yang mungkin sulit muncul di dunia nyata. Namun pada saat yang sama, internet juga dapat mendorong kita membangun citra yang terlalu jauh dari kenyataan.


Jadi jika kamu merasa menjadi orang yang berbeda saat online, mungkin itu bukan berarti kamu palsu. Bisa jadi kamu hanya sedang menunjukkan sisi lain dari dirimu yang tidak selalu terlihat setiap hari.


Tidak ada satu identitas yang sepenuhnya mewakili manusia. Kita semua memiliki banyak sisi yang muncul dalam situasi berbeda. Tantangannya bukan menjadi orang yang sama di semua tempat, melainkan memastikan bahwa siapa pun diri kita—baik online maupun offline—tetap mencerminkan nilai dan karakter yang ingin kita pegang. -red


Penulis: Ivonne Hana

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page