8 hours ago2 min read



KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Untuk waktu yang lama, banyak orang melihat game cuma sebagai hiburan atau pelarian dari kebosanan. Orang tua juga sering khawatir game bikin anak-anak mereka malas belajar, sampai rela mengomel setiap kali anak lupa waktu di depan layar.
Tapi, belakangan, pandangan itu mulai bergeser. Di Kalimantan Tengah, esports mulai tumbuh pelan-pelan. Tidak hanya sekadar hobi, sekarang esports sudah menyentuh sektor kompetisi, membentuk komunitas, bikin roda ekonomi kreatif bergerak, sampai menciptakan peluang kerja baru buat anak muda.
Proses ini bukannya muncul tanpa alasan. Secara nasional, industri game dan esports di Indonesia lagi berkembang dengan kecepatan luar biasa. PwC, lewat Global Entertainment & Media Outlook 2025–2029, memprediksi pendapatan gaming dan esports dalam negeri tembus sekitar US$2,4 miliar pada 2029. Padahal, tahun 2024 angkanya masih di US$1,6 miliar. Peningkatannya lumayan besar, didorong sama orang yang makin nyaman main lewat HP, internet makin kencang, dan anak muda makin tertarik dunia game kompetitif.
Di Kalimantan Tengah sendiri, geliat esports makin terasa. Turnamen lokal jadi lebih sering—mulai dari event komunitas, acara resmi pemerintah daerah, sampai organisasi esports. Contoh paling dekat, waktu Hari Jadi Kalimantan Tengah 2025, turnamen eFootball masuk ke dalam agenda resmi. Pesertanya puluhan atlet digital dari berbagai penjuru daerah. Kata Rio Kriswana, Ketua Harian ESI Kalteng, turnamen model begini itu bukan cuma urusan kompetisi, tapi juga ajang buat anak muda menyalurkan kreativitas dan membangun bakat digital mereka.
Perkembangan ini ternyata juga sudah jadi perhatian pemerintah daerah. Dalam Musyawarah Provinsi ESI Kalimantan Tengah 2025, Johni Sonder (Plt. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kalteng), bilang esports punya potensi besar buat kebaikan daerah. Soal prestasi, katanya, bukan cuma karena jumlah penduduk, tapi butuh pembinaan dan pengelolaan SDM yang benar.
Jadi, sebenarnya, apakah esports beneran bisa jadi industri serius di Kalimantan Tengah?
Kalau menengok apa yang sedang terjadi di tingkat nasional, jawabannya mulai kelihatan yaitu semakin mungkin. Dunia esports sekarang tidak sekadar membutuhkan pemain pro. Di balik satu ajang turnamen esports, ada banyak profesi lain. Ada caster, analis pertandingan, pelatih, manajer tim, panitia event, videografer, editor, desainer grafis, bahkan pengelola medsos. Artinya, esports sudah berproses jadi bagian dari ekonomi kreatif digital yang luas.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan sektor ekonomi kreatif sekarang menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja pada 2025 yaitu sekitar 18,7 persen tenaga kerja nasional. Angka itu memang dari semua subsektor ekonomi kreatif. Tapi, enggak bisa dipungkiri, perkembangan industri digital macam game dan esports bikin sektor ini makin tumbuh.
Indonesia juga punya posisi kuat di pasar esports Asia Tenggara. Data industri yang ramai dibahas di komunitas gaming internasional nyebut Indonesia pasar terbesar Mobile Legends, juga punya liga esports paling ramai penontonnya. MPL Indonesia Season 15 dapat catatan puncak 1,84 juta penonton sekaligus di kuartal pertama 2025. Angka yang luar biasa untuk ukuran liga esports.
Nah, peluang besar ini kebuka lebar buat anak muda Kalteng. Soalnya, karier di esports tidak harus melulu jadi pemain. Bisa juga jadi konten kreator, panitia turnamen lokal, pelatih, analis data pertandingan, sampai penggerak komunitas digital.
Namun, bukan berarti tanpa tantangan. Internet di beberapa daerah di Kalteng masih suka bikin naik darah karena lambat. Kompetisi juga belum sebanyak di kota-kota besar kayak Jakarta atau Bandung. Dan stigma lama masih sering kedengaran: esports itu bukan masa depan.
Padahal, PB Esports Indonesia sudah menegaskan pengembangan esports nasional sekarang enggak cuma demi prestasi, tapi buat memperkuat ekonomi kreatif, pendidikan, dan budaya. Liga Esports Nasional, misalnya, menyediakan hadiah sampai Rp3,2 miliar. Artinya, ekosistem esports Indonesia makin profesional.
Di Kalteng sendiri, buktinya sudah mulai kelihatan. Contohnya Bupati Cup di Kapuas tahun 2025 yang berhasil menggaet 148 tim peserta dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Ini bukti langsung—minat anak muda sama esports bukan cuma fenomena kota besar doang.
Pada akhirnya, masa depan esports di Kalimantan Tengah enggak cukup cuma dilihat dari siapa yang paling jago main. Yang lebih penting itu, daerah bisa bikin ekosistem yang kuat: dari pembinaan talenta, jaringan internet yang stabil, komunitas yang solid, sampai terbukanya lapangan pekerjaan nyata.
Kalau semua itu berjalan, esports di Kalteng bukan lagi sekadar main game. Dia bisa tumbuh jadi industri kreatif yang beneran, menciptakan peluang kerja, memunculkan talenta digital, sekaligus jadi cerminan baru ekonomi anak muda Kalteng ke depannya. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana




Comments