BMKG: Puncak Kemarau di Kotim Diperkirakan Terjadi September, Seluruh Kecamatan Masuk Zona Merah Karhutla
- Fransisca Fethy Angelina
- 1 day ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandara H Asan Sampit memperkirakan musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September, bergeser dari prakiraan sebelumnya yang memperkirakan puncak musim kering berlangsung pada Agustus.
Kepala Stasiun BMKG Bandara H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan perubahan prakiraan tersebut dipengaruhi oleh pergeseran awal musim kemarau.
"Kondisi kering diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga penghujung Oktober sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan," katanya, Senin (20/7/2026).
Seiring berlangsungnya musim kemarau, BMKG menyatakan seluruh 17 kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur kini masuk kategori sangat mudah terbakar atau zona merah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi tersebut dipicu minimnya curah hujan sejak pertengahan Juni yang disertai cuaca panas serta kelembapan udara yang rendah. Menurut Leo, tingkat kerawanan kebakaran awalnya terjadi di wilayah selatan sebelum meluas hingga mencakup seluruh kecamatan.
"Dalam kondisi lahan yang telah lama tidak diguyur hujan, api akan lebih cepat membesar dan menyebar apabila terjadi kebakaran," ujarnya.
BMKG juga memperkirakan peluang hujan dalam beberapa hari ke depan masih sangat kecil. Jika hujan terjadi, intensitasnya diperkirakan hanya ringan dan bersifat lokal sehingga belum mampu menurunkan tingkat kerawanan karhutla secara signifikan.
Selain meningkatkan potensi kebakaran, arah angin yang dominan bertiup dari selatan hingga tenggara berpotensi membawa asap menuju Kota Sampit apabila kebakaran hutan dan lahan di wilayah selatan terus meluas.
"Kalau kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi di daerah selatan, kemungkinan besar asapnya akan terbawa ke Kota Sampit," jelasnya.
Meski demikian, hasil pemantauan BMKG menunjukkan kondisi atmosfer di sekitar Stasiun Bandara H Asan Sampit masih relatif bersih dengan jarak pandang normal. Namun, pada malam hingga pagi hari mulai terindikasi penurunan jarak pandang akibat kecepatan angin yang melemah sehingga asap cenderung bertahan di suatu wilayah.
Leo menjelaskan, pada siang hari angin umumnya bertiup lebih kencang sehingga asap lebih mudah berpindah. Sebaliknya, pada malam hingga pagi hari angin menjadi lebih tenang sehingga asap lebih mudah terakumulasi dan menyebabkan kabut asap terasa lebih pekat.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan masyarakat pesisir, khususnya nelayan yang menggunakan perahu atau kapal berukuran kecil, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi gelombang di perairan selatan Kotawaringin Timur.
Dominasi angin timuran diperkirakan menyebabkan tinggi gelombang bertahan pada kisaran 1 hingga 1,5 meter selama Juli hingga Oktober.
"Ini cukup berbahaya bagi kapal nelayan berukuran kecil sehingga kami menyarankan nelayan menunda aktivitas melaut apabila cuaca tidak mendukung," tegasnya.
Sementara itu, kapal berukuran besar, termasuk kapal penumpang, masih dinilai aman beroperasi karena ambang peringatan bagi kapal jenis tersebut berada pada tinggi gelombang di atas dua meter. -red
Penulis: Angel
Editor: Emuna Asie





















Comments