top of page

Bagaimana Anak Muda Kalteng Menceritakan Daerahnya kepada Dunia?

Ilustrasi Seorang pemuda/pemudi Dayak modern sedang melakukan live streaming atau mengedit video tentang kebudayaan Kalteng menggunakan laptop/kamera. (Foto: Ilustrasi)
Ilustrasi Seorang pemuda/pemudi Dayak modern sedang melakukan live streaming atau mengedit video tentang kebudayaan Kalteng menggunakan laptop/kamera. (Foto: Ilustrasi)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Dulu, promosi sebuah daerah hampir sepenuhnya bergantung pada pemerintah, media massa, atau brosur pariwisata. Namun di era digital, kondisi tersebut berubah drastis. Kini, siapa pun yang memiliki telepon genggam dan akses internet dapat menjadi "duta daerah" bagi tempat asalnya. Di Kalimantan Tengah, fenomena ini semakin terlihat ketika anak-anak muda aktif membagikan cerita tentang daerah mereka melalui TikTok, Instagram, YouTube, hingga berbagai platform digital lainnya.


Mulai dari keindahan Sungai Kahayan, kehidupan masyarakat di pedalaman, budaya Dayak, kuliner khas, hingga aktivitas sehari-hari di Palangka Raya, Sampit, dan berbagai daerah lainnya kini lebih sering diperkenalkan oleh warga sendiri daripada melalui kampanye promosi resmi.


Anak muda tidak hanya menjadi penonton perkembangan digital, tetapi juga menjadi produsen informasi yang membentuk citra Kalimantan Tengah di mata publik.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tingginya penetrasi internet ini menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap ruang digital sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi.


Yang menarik, kelompok usia muda menjadi pengguna internet paling dominan. Data BPS menunjukkan Generasi Z dan milenial merupakan kelompok terbesar pengguna internet Indonesia pada 2024. Generasi Z sendiri menyumbang sekitar 34,49 persen dari total pengguna internet nasional.


Kondisi tersebut menciptakan peluang besar bagi daerah seperti Kalimantan Tengah. Jika pada masa lalu cerita tentang daerah lebih banyak datang dari luar, kini masyarakat lokal memiliki kesempatan untuk menjadi narator utama tentang identitas, budaya, dan kehidupan mereka sendiri.


Menurut penelitian Rafika Amira dan Feri Ferdian dalam jurnal J-CEKI: Jurnal Cendekia Ilmiah tahun 2025, Generasi Z memiliki peran penting dalam mempromosikan potensi daerah melalui media sosial digital. Penelitian tersebut menemukan bahwa platform seperti TikTok dan Instagram memungkinkan anak muda menyebarluaskan informasi, membentuk persepsi publik, dan memengaruhi minat masyarakat terhadap suatu daerah atau destinasi.


Fenomena serupa mulai terlihat di Kalimantan Tengah. Banyak kreator lokal yang mengangkat kehidupan khas daerah, mulai dari perjalanan menyusuri sungai, aktivitas masyarakat adat, wisata alam, hingga cerita keseharian yang sebelumnya jarang mendapat perhatian nasional. Konten-konten semacam ini sering kali memperoleh respons positif karena menawarkan perspektif yang autentik dan berbeda dari kehidupan perkotaan yang mendominasi media sosial.


“Orang sekarang ingin melihat sesuatu yang asli. Kehidupan di Kalteng punya banyak cerita yang menarik karena berbeda dengan daerah lain,” ujar Andriansyah, salah satu kreator konten asal Palangka Raya.


Menurut UNESCO, budaya anak muda (youth culture) saat ini tidak dapat dipisahkan dari teknologi dan media digital. Generasi muda menggunakan platform digital sebagai sarana untuk mengekspresikan identitas, nilai, dan pengalaman mereka kepada masyarakat yang lebih luas. Dalam konteks tersebut, media sosial bukan sekadar alat hiburan, tetapi juga ruang untuk membangun narasi budaya dan identitas daerah.


Perkembangan ini juga memiliki dampak ekonomi yang tidak kecil. Konten yang viral tentang suatu tempat dapat meningkatkan minat wisatawan, memperkenalkan produk UMKM lokal, hingga membuka peluang kolaborasi bagi kreator daerah. Penelitian mengenai pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi menunjukkan bahwa platform digital memiliki keunggulan karena biaya yang relatif rendah, jangkauan yang luas, dan kemampuan membangun interaksi langsung dengan audiens.


Di sisi lain, para ahli komunikasi mengingatkan bahwa kemampuan menceritakan daerah juga membawa tanggung jawab. Informasi yang dibagikan harus akurat, tidak menyesatkan, dan tetap menghormati nilai budaya setempat. Di era ketika satu video dapat ditonton ribuan orang dalam hitungan jam, kualitas informasi menjadi semakin penting.


Menariknya, generasi muda saat ini tidak hanya mempromosikan tempat wisata. Mereka juga mulai menceritakan isu lingkungan, pendidikan, budaya, hingga peluang usaha di daerah. Dengan cara tersebut, Kalimantan Tengah tidak hanya dikenal karena sumber daya alamnya, tetapi juga karena cerita-cerita manusia yang hidup di dalamnya.


Fenomena ini menunjukkan bahwa promosi daerah sedang mengalami perubahan besar. Jika dahulu citra sebuah daerah dibentuk oleh institusi besar, kini citra tersebut semakin banyak dibangun oleh individu-individu biasa yang memiliki kreativitas dan akses internet.


Bagi Kalimantan Tengah, perkembangan ini menjadi peluang yang sangat berharga. Setiap video tentang Sungai Kahayan, setiap foto budaya Dayak, setiap cerita tentang kehidupan masyarakat pedalaman, dan setiap unggahan tentang produk lokal sesungguhnya sedang membentuk wajah daerah di mata dunia.


Pada akhirnya, anak muda Kalteng hari ini tidak hanya menggunakan media sosial untuk mengikuti tren global. Mereka juga sedang melakukan sesuatu yang lebih besar yaimenjadi pencerita bagi daerahnya sendiri. Dari sungai, hutan, budaya, hingga kehidupan sehari-hari, mereka membawa cerita Kalimantan Tengah melampaui batas geografis dan memperkenalkannya kepada dunia digital yang semakin terhubung.-red


Penulis: Emuna Asie Editor: Angel

Comments


bottom of page