top of page

Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Pemerintah Siapkan Langkah Stabilisasi Pasar

KALTENG NETWORK, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadi posisi terendah sepanjang sejarah. Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (12/5/2026), rupiah sempat berada di kisaran Rp17.512 per dolar AS atau melemah sekitar 0,56 persen dibanding hari sebelumnya.


Pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, tingginya suku bunga AS, ketegangan geopolitik internasional, hingga kekhawatiran investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Selain itu, penguatan dolar AS juga membuat banyak mata uang di Asia ikut tertekan.


Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan mulai mengaktifkan sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas pasar dan membantu penguatan rupiah. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah intervensi di pasar obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN).


Menurutnya, langkah tersebut penting agar tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tidak melonjak terlalu tinggi yang bisa memicu keluarnya investor asing dari Indonesia. Pemerintah juga menyiapkan skema Bond Stabilization Fund (BSF) untuk membantu menjaga stabilitas pasar keuangan.


Meski rupiah melemah, pemerintah memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih dalam kondisi aman. Purbaya menjelaskan perhitungan APBN 2026 sudah memperhitungkan kemungkinan pelemahan rupiah di atas asumsi dasar yang ditetapkan pemerintah.


Sementara itu, pengamat ekonomi menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar modal Indonesia.


Pemerintah bersama Bank Indonesia diharapkan terus memperkuat koordinasi agar nilai tukar rupiah tetap stabil dan tidak memberikan dampak besar terhadap ekonomi masyarakat. -red

Comments


bottom of page