Puskesmas Bukit Hindu Gelar Skrining TBC Terpadu, Dorong Deteksi Dini Penyakit
- Fransisca Fethy Angelina
- Jul 23
- 2 min read

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Pemerintah Kota Palangka Raya melalui UPT Puskesmas Bukit Hindu menggelar skrining Tuberkulosis (TBC) yang terintegrasi dengan pemeriksaan Penyakit Tidak Menular (PTM) dan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas Pembantu Mendawai, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan deteksi dini TBC dan penyakit tidak menular agar masyarakat memperoleh penanganan lebih cepat.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan berbagai layanan kesehatan, di antaranya pemeriksaan rontgen paru, pemeriksaan dahak, tes Mantoux untuk balita, pemeriksaan gula darah dan kolesterol, pengukuran tinggi dan berat badan, lingkar pinggang, tekanan darah, hingga pemeriksaan Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Dokter UPT Puskesmas Bukit Hindu, Ester Tampubolon, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung target pemerintah dalam mengeliminasi TBC pada 2030.
Menurutnya, integrasi skrining TBC dengan program CKG penting dilakukan karena beberapa penyakit tidak menular, khususnya diabetes, dapat meningkatkan risiko seseorang terkena TBC.
"Dalam CKG terdapat pemeriksaan gula darah. Apabila ditemukan warga dengan kadar gula darah tinggi, maka akan dilakukan penggalian lebih lanjut untuk mengetahui apakah yang bersangkutan juga memiliki faktor risiko TBC," ujarnya.
Ester menjelaskan masyarakat perlu mengenali gejala utama TBC agar dapat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Salah satu gejala yang harus diwaspadai adalah batuk selama dua minggu atau lebih yang tidak kunjung sembuh meski telah menjalani pengobatan.
Gejala tersebut dapat disertai penurunan berat badan, batuk berdarah, serta demam yang hilang timbul. Selain itu, anggota keluarga maupun orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC juga dianjurkan menjalani pemeriksaan dan memperoleh terapi pencegahan apabila diperlukan.
Ia menambahkan, stigma terhadap TBC masih menjadi tantangan karena sebagian penderita memilih menutupi kondisi kesehatannya. Padahal, keterbukaan serta kepatuhan menjalani pengobatan menjadi kunci memutus rantai penularan.
"Pengobatan TBC membutuhkan waktu cukup panjang, umumnya sekitar enam bulan dan pada kondisi tertentu bisa lebih lama. Karena itu, obat harus diminum secara rutin dan tidak boleh terputus agar proses penyembuhan berjalan optimal," katanya.
Ke depan, UPT Puskesmas Bukit Hindu akan melaksanakan skrining TBC yang terintegrasi dengan program CKG secara berkala sebanyak tiga kali setiap bulan. Program serupa juga direncanakan diterapkan di puskesmas lain di Kota Palangka Raya.
Ester mengatakan kawasan Mendawai dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan karena memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Kondisi permukiman yang padat dengan sirkulasi udara yang kurang baik dinilai menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam upaya pencegahan penularan TBC.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Palangka Raya berharap masyarakat semakin sadar pentingnya deteksi dini, mengenali gejala TBC, serta memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang tersedia. -red
Penulis: Angel
Editor: Ivonne Hana





















Comments