5 hours ago2 min read


6 hours ago2 min read



KALTENGNETWORIK, PALANGKA RAYA- Di tengah arus tren modern yang terus berkembang, sebagian anak muda justru mulai melirik kembali budaya dan kekayaan lokal sebagai identitas yang patut dibanggakan. Hal itulah yang coba dibawa oleh Avillia Yufensi Ngagalan, 24 tahun, pebisnis muda asal Kalimantan Tengah yang menggabungkan unsur tradisional dengan sentuhan modern melalui bisnisnya.
Avi mengembangkan dua lini usaha dengan karakter berbeda, yakni Batukei di bidang produk lokal berbahan alami khas Kalimantan, serta Soul of Borneo (SOB) yang bergerak di dunia fashion. Meski berbeda bidang, keduanya memiliki benang merah yang sama: menghadirkan budaya lokal agar tetap relevan di era modern.
“Menurutku budaya itu nggak harus kaku atau jadul. Justru kalau dikemas dengan sentuhan modern, budaya lokal bisa lebih diterima, terutama oleh anak muda,” ujarnya.

Kedekatan Avi dengan pengobatan tradisional ternyata sudah ada sejak kecil. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang akrab dengan berbagai bahan herbal khas Kalimantan Tengah, mulai dari bawang dayak, bajakah, hingga sarang semut yang kerap dikonsumsi sebagai obat tradisional.
Dari kebiasaan keluarga itulah, Avi mulai melihat bahwa kekayaan lokal Kalimantan bukan hanya warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk modern yang lebih dekat dengan generasi muda.
Pemikiran tersebut kemudian melahirkan Batukei, brand yang mengolah bahan-bahan alami khas Kalimantan Tengah menjadi produk dengan konsep lebih praktis dan kekinian. Nama Batukei sendiri diambil dari bahasa Dayak yang berarti ulet atau tekun.
Beberapa produk yang dikembangkan di antaranya bawang dayak celup menggunakan tea bag, kelakai cookies, hingga bawang dayak cookies.
“Kalau dulu biasanya diolah dengan cara diseduh biasa, jadi aku kepikiran kenapa nggak dibuat lebih praktis,” ujarnya.

Tidak hanya mengutamakan nilai tradisi, Avi juga mencoba menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Salah satunya melalui produk cookies berbahan dasar kelakai yang kaya zat besi.
Menurutnya, anak muda tetap bisa menikmati camilan modern tanpa meninggalkan nilai gizi dari bahan lokal khas daerah.
Sementara itu, melalui Soul of Borneo, Avi menyalurkan minat pribadinya di dunia fashion. Ketertarikannya terhadap tren dan mix and match outfit membuatnya ingin menciptakan brand yang tetap modern namun memiliki sentuhan lokal.
Ia bahkan mencoba menggabungkan elemen tradisional seperti kain batik ke dalam desain yang lebih kekinian, misalnya dalam bentuk corset dan outfit bergaya modern.
Dalam proses kreatifnya, Avi mengaku banyak terinspirasi dari perpaduan budaya lokal, tren modern, dan pengalaman pribadi sehari-hari. Menurutnya, produk akan lebih mudah diterima jika terasa dekat dengan kehidupan konsumennya.
Meski begitu, membangun bisnis berbasis budaya lokal di kalangan anak muda bukan tanpa tantangan. Avi mengatakan masih banyak generasi muda yang memandang produk tradisional sebagai sesuatu yang kuno atau kurang menarik.
“Tantangan terbesarnya itu mengubah mindset. Banyak yang mikir minuman herbal atau cookies dari kelakai dan bawang dayak rasanya aneh,” katanya.
Karena itu, ia merasa branding, visual, dan storytelling menjadi hal yang sangat penting untuk membangun kedekatan dengan audiens muda. Selain itu, konsistensi di media sosial juga menjadi salah satu cara untuk membangun kepercayaan dan engagement.
Di akhir wawancara, Avi berharap semakin banyak generasi muda yang bangga terhadap budaya dan produk lokal daerahnya sendiri.
Menurutnya, anak muda tidak harus selalu menggunakan produk luar untuk terlihat menarik atau mengikuti tren. Dengan mendukung produk lokal, generasi muda juga turut menjaga warisan budaya sekaligus membantu pertumbuhan ekonomi daerah.
“Semoga makin banyak anak muda yang bukan cuma jadi konsumen, tapi juga kreator yang bisa mengangkat budaya lokal ke level lebih tinggi dan membuka peluang kerja untuk orang lain,” tutupnya.
Bagi Pembaca Cerdas yang tertarik dengan produknya, bisa bertukar pesan melalui akun Instagram @batukei.palangkaraya atau @soulofborneo.sob. -red
Penulis: Ivonne Hana Editor : Emuna Asie






Comments