top of page

Siapa yang Bertanggung Jawab atas Melemahnya Nilai Rupiah?

KALTENGNETWORK- Nilai tukar rupiah per 17 Mei 2026, tembus Rp17.601,57 per dollar Amerika. Bagi sebagian orang, angka ini terasa seperti urusan para ekonom dan analis keuangan saja. Padahal, hal ini lambat laun akan memengaruhi kita - mulai dari harga di warung yang semakin mahal, biaya produksi yang terus meningkat, hingga cicilan yang terasa semakin berat.


Pelemahan rupiah sering kali langsung dikaitkan dengan kegagalan Bank Indonesia. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Nilai tukar adalah cerminan dari banyak hal sekaligus dan bersifat kausalitas. Kebijakan moneter memang berperan, tapi kebijakan fiskal juga punya andil yang tidak bisa diabaikan. Menyalahkan BI seorang diri adalah cara yang terlalu mudah untuk memahami masalah yang sesungguhnya jauh lebih dalam.


Tekanan terhadap rupiah datang dari beberapa arah. Arah pertama adalah dari faktor eksternal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat investor global memilih untuk bermain aman, dan dollar Amerika selalu menjadi tempat pertama yang mereka tuju di saat seperti ini. Uang mengalir keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dan rupiah ikut menanggung akibatnya. Ini bukan fenomena yang unik bagi kita. Hampir seluruh mata uang Asia mengalami tekanan yang sama. Tapi bukan berarti juga hal ini menjadi tidak penting untuk ditangani.


Tekanan lainnya berasal dari struktur perdagangan kita sendiri. Sepanjang kuartal pertama 2026, impor tumbuh 10,05 persen sementara ekspor hanya naik 0,34 persen. Artinya, kita membutuhkan jauh lebih banyak dollar untuk membayar barang yang kita beli dari luar, sementara kemampuan kita menghasilkan dollar dari ekspor nyaris tidak bergerak. Ketidakseimbangan ini terus mendorong permintaan dollar yang semakin tinggis, sementara rupiah yang harus menanggung dampaknya.


Situasi ini kian diperumit dengan kondisi APBN yang sedang mengalami defisit. Belanja negara di kuartal pertama telah mencapai Rp815 triliun, sementara pendapatan baru masuk Rp574,9 triliun. Tidak heran jika pada akhirnya terjadi defisit sebesar Rp240,1 triliun hanya dalam tiga bulan pertama, dua kali lipat lebih besar dibanding tahun lalu pada periode yang sama.


Meskipun defisit pada APBN memang bukan otomatis hal yang buruk, hal ini diperkeruh dengan kondisi harga minyak dunia yang sedang melonjak. Harganya tembus di atas 108 dollar per barel akibat konflik Timur Tengah. APBN turut berkorban untuk kebijakan subsidi agar harga BBM agar tidak ikut naik, yang pada akhir Maret 2026 telah mencapai Rp118,7 triliun. Keputusan ini dapat dipahami. Jika pemerintah tidak melakukan hal ini, dampaknya pasti akan terasa melalui konsumsi masyarakat yang melemah secara signifikan. Sayangnya, dari kondisi APBN yang telah defisit, ruang fiskal pun ikut menyempit dan membuat kemampuan pemerintah untuk merespons tekanan berikutnya semakin terbatas.


Di atas semua angka itu, ada satu faktor yang lebih sulit diukur namun dampaknya sangat signifikan, yakni kepercayaan investor. Investor tidak hanya membaca laporan keuangan. Mereka juga mendengar apa yang dikatakan oleh pejabat publik, dan mereka sangat peka terhadap ketidakselarasan antara janji dan kenyataan. Ketika pemerintah dan bank sentral terkesan tidak berbicara dalam satu arah dan saling lempar masalah, pasar membaca itu sebagai sinyal risiko. Sinyal risiko selalu berujung pada satu hal, pelemahan nilai tukar.


Yang dibutuhkan sekarang bukan pernyataan bahwa semuanya terkendali. Yang dibutuhkan adalah penjelasan yang jujur oleh pihak yang berwenang tentang apa yang sedang terjadi, apa yang sedang dikerjakan, dan ke mana arah kebijakan akan dibawa. Kepercayaan pasar tidak dibangun dari optimisme yang diucapkan di depan kamera. Namun dibangun melalui konsistensi, transparansi, serta keberanian untuk berbicara apa adanya bahkan ketika situasinya tidak sedang baik-baik saja. -red


Penulis : Muhammad Rani/Mind Your Money

Editor : Kalteng Network Team


Referensi: Babel Insight. (2026, Mei 15). Rupiah tembus Rp 17.600 per dollar AS pada 15 Mei 2026. https://www.babelinsight.id/rupiah-tembus-17600-dollar-15-mei-2026 Badan Pusat Statistik. (2026, Maret 3). Surplus neraca perdagangan di awal tahun 2026. https://www.bps.go.id/id/news/2026/03/03/870/surplus-neraca-perdagangan-di-awal-tahun-2026.html Kompas.com. (2026, Mei 6). Mengelola beban energi di tengah pertumbuhan 5,61 persen. https://money.kompas.com/read/2026/05/06/180300726/mengelola-beban-energi-di-tenga h-pertumbuhan-5-61-persen Matamata.com. (2026, Mei 5). Realisasi APBN kuartal I 2026: Pendapatan negara Rp574,9 T, defisit 0,93 persen terhadap PDB. https://www.matamata.com/news/2026/05/05/150055/realisasi-apbn-kuartal-i-2026-penda patan-negara-rp5749-t-defisit-093-persen-terhadap-pdb

 
 
 

Comments


bottom of page